Peribahasa Nenek Moyang tentang Dunia Keuangan

    Saat kita bicara tentang peribahasa maka hal yang menjadi bayangan dalam benak kepala kita adalah sebuah kalimat dengan gambaran atau analogi yang memiliki makna tersirat. Istilah peribahasa sendiri ada banyak jenisnya dan memiliki makna yang berbeda-beda. Nenek moyang kita yang membuat peribahasa itu mungkin akan terdengar kuno dan tidak relevan dengan kehidupan seseorang modern. Akan tetapi, hal yang saya temukan kalimat peribahasa itu tidak pernah kadaluwarsa. Makna  peribahasa yang awalnya terdengar buruk akan berubah drastis ketika kita mengubah perspektif kita terutama nasihat dengan dunia keuangan yang tersirat di dalamnya.

1.     Sedikit demi sedikit lama-lama menjadi bukit

          Nasihat ini sering saya dengar di waktu sekolah dan sering di tempel sebagai selogan yang di tempel pada dinding sekolah yang mengajar orang-orang untuk belajar menabung. Konsep ini mungkin tidak relevan dengan dunia keuangan saat ini karena menabung hanya akan mengurangi nilai tersebut tetapi jika kita terapkan konsep tersebut pada investasi maka akan terjadi yang mananya “ The Compound Effect”

     




  

     Istilah ini merupakan sebuah fenomena  yang menjelaskan bagaimana sebuah investasi jangka panjang. Efek ini mungkin tidak akan begitu terasa di awal tetapi akan terasa dampaknya ketika sebuah investasi itu sudah bertahan dalam jangka panjang. Contoh nyata dapat kita lihat dari investor ternama Warren  Buffet yang kekayaannya 99% beliau dapatkan ketika berusia lebih 50 tahun.

2.     Pelan-pelan tapi selamat

Di dunia yang modern ini semua orang dituntut untuk bergerak dengan cepat dan Adaptif. Mengumpulkan uang sebanyak-sebanyak sehingga dapat membeli mobil pertama kemudian membeli rumah pertama agar bisa mendapat pengakuan dari orang-orang. Dari fenomena itu lahirlah istilah siapa cepat maka dialah yang menjadi pemenang. Nasihat ini cenderung bertolak belakang dengan sebelumnya tetapi prinsip inilah yang menjadi dasar dalam berinvestasi. Kembali ke peribahasa yang kita bahas pertama, punya keuntungan 10-20% akan lebih baik daripada untung 100% per bulan yang sekali rugi langsung 50%.

3.     Gali lubang Tutup Lubang

Peribahasa ini cenderung punya arti yang negatif sebab peribahasa ini menjelaskan seseorang yang terjebak dengan utang. Ia harus membayar utangnya dengan cara meminjam utang kepada orang lain. Hal ini kebanyakan dilihat secara negatif oleh orang-orang tetapi prinsip sangat sering digunakan orang kaya. Kebanyakan orang kaya tidak pernah membeli sesuatu secara tunai, mereka kebanyakan membeli sesuatu secara kredit. Bukan berarti mereka tidak punya uang tetapi memutuskan untuk membuat uang tersebut menghasilkan uang yang lebih banyak. Prinsip itu dapat dijelaskan dengan konsep cashflow oleh Robert T Kiyosaki dalam bukunya “Rich Dad & Poor Dad.”

Kesimpulan
            Dari hal tersebut dapat disimpulkan bahwa nenek moyang kita itu tidak hanya membuat peribahasa untuk nasehat omong kosong yang tidak relevan dengan perkembangan zaman. Nasihat “Sedikit demi sedikit lama-lama menjadi bukit”, “Pelan-pelan tapi selamat”, dan ”Gali lubang Tutup Lubang” mempunyai pesan moral  yang bisa di aplikasikan terutama dalam dunia keuanngan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mencari Tuhan dalam Ekonomi

Filosofi kertas Kehidupan

Filosofi Mencuci Piring