Filosofi Dompet Kosong ala Pelancong


Apa yang anda pikirkan tentang pelancong ? bagi anda yang sudah menjadi pelancong, baik itu untuk mencari rezeki ataupun menimba ilmu, sudah pasti sangat indentik dengan kondisi kritis finansial di akhir bulan, dimana dompet menjerit butuh asupan kertas biru dan merah, tapi apa daya apabila hanya tinggal beberapa kertas seorang pria yang membawa golok yang sekarang sudah digantikan dengan perempuan asal aceh.


“Berjuang dengan Patimura, merdeka bersama Soekarna Hatta.” Demikian kata-kata yang mengibaratkan liku-liku saya bersama dompet yang setia menemani di saat mudah maupun sukar.

Hal pertama yang paling mengenang di akhir bulan adalah antisipasi saya saat memangkas anggaran makan saya, dengan mengubah anggaran belanja yang awalnya hampir setiap hari makan nasi lalapan sama es teh, saya ubah menu tersbut menjadi rendang, baso sapi, peper chicken, dan lainnya, tapi dalam bentuk mie instant. Syukur-syukur apabila ada tetangga yang bagi-bagi rezeki dari sisa acara nikahan, bisa bantu memperbaiki nutrisi, terkadang saya juga ikut acara-acara sosial agar dapat kebagian jatah nasi bungkus.

 Dari hal tersebut, sering rasanya sedih mengecek isi dompet, tapi sayang hal  tersebut tidak berlaku apabila ada diskon besar-besaran pada barang yang disukai dan kebetulan sisa isi dompet sedang cocok dengan harga yang ditawarkan. Tanpa pikir panjang. langsung saya sikat barang tersebut walaupun duit tersisa buat makan selama sepuluh hari ke depan, sudah dompet kurus langsung tampah kering tinggal kartu tanda penduduk dan surat izin mengemudi. Setelah membeli yang diidamkan tersebut, kebahagiaan muncul sepersekian menit dan rasa khilaf menghantui hingga tanggal muda datang.


 Hal ini membuat otak harus berpikir keras, bagaimana cara agar bisa bertahan hidup hingga tanggal gajian turun. Awal-awal merasakan ini, rasanya ingin pulang kampung gak kuat hidup di daerah asing. Namun, rasa sedih ini dapat hilang apabila ada teman yang gak pandang isi dompet ataupun teman yang merasakan nasib yang sama. Dengan menghabiskan waktu bersama dengan mereka, walaupun hanya bermain kecil seperti kartu, guitar ataupun main game online bersama itu sudah cukup menghibur.

Dengan demikian, saya belajar bahwa bahagia itu tidak harus memiliki dan bahagai itu dapat ditentukan pada standar berapa kita bisa bahagia. Kebahagian sederhana itu, rasanya hidup terasa lebih ringan apalagi jika teman ini adalah orang yang punya banyak persediaan makanan dan lebih beruntung lagi apabila mereka punya kas lebih yang bisa saya pinjam. Utang dengan teman lebih menguntungkan karena kita bebas bayar sesuai kesepakatan, tidak ada denda bayar terlambat dan bagi yang syari terhindar dari bunga atau riba.

 Biasanya saya berjanji bayar utang saat gajian, di waktu ini saya punya dua pilihan yaitu menunda pembayaran sampai lupa. Hal ini bisa menjadi efektif apabila teman yang diutangi adalah teman yang tulus ataupun pelupa karena uangnya begitu berlebih. Namun, karena saya adalah pribadi bertanggung jawab maka saya akan langsung membayarnya sesuai kesepakatan. Ketika beban utang telah dilunasi, saya dapat menghirup nafas segar terbebas dari utang, dan seketika itu pula, dada mulai sesak karena dompet yang baru terisi kembali kurus karena melunasi beban yang ditanggung. Kemungkinan besar yang terjadi di hari esok ialah kembali ke siklus awal, seolah-olah saya terjerat dengan siklus utang-mengutang.

 Rasanya benar-benar frustasi, seolah hidup benar-benar tidak adil karena hidup saya dipenjara dalam siklus yang berlangsung hampir setiap bulan jika tidak pandai-pandai mengatur keungan. Sering sekali, saya merenung mengingat masa-masa enak di rumah, dimana kita saya tidak harus memikirkan besok bisa makan atau tidak. Minta tambahan kepada orang tua adalah hal sungkan karena tidak selamanya saya bisa hidup bersama mereka. Tujuan yang sederhana yaitu membahagiakan orangtua membuat diri saya harus berubah dan berkembang agar terlepas dari keadaan ini walaupun terkadang harus terjerat pada siklus tersebut berkali-kali, saya harus bangkit terus walaupun harus jatuh berkali.

Akhirnya saya mempelajari sebuah fakta yang sedikit mengejutkan, fakta tersebut adalah kondisi dompet yang tebal itu adalah hal yang sangat kuno. Kenapa ? karena, sekarang sudah zamannya uang elektronik jadi tidak penting dompet anda tebal ataupun kurus, yang penting adalah berapa digit angka yang berada akun e-money anda.

Demikian dari penulis, salam sejahtera dan terima kasih.

Komentar

  1. Hahaha.. menarik sih gan, mengenai "Dompet kosong" terlebih bagi pelancong yang udh punya penghasilan sendiri dan ga mungkin minta sama orang tua, berbeda tipis dengan mahasiswa, tipis tapi terasa jauh. Bahagia menurut org emang beda-beda tapi semua sepakat bahagia itu bisa dengan cara yang sederhana. "Berjuang dengan Pattimura, merdeka bersama Soekarno Hatta, ajiib sih. Haha

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mencari Tuhan dalam Ekonomi

Filosofi Kacamata Bijaksana

Filosofi kertas Kehidupan