Postingan

Menampilkan postingan dengan label Novel

Webnovel / Light Novel Si Kilat Biru Chapter 3 : Api di Tepi Pantai

         Pikiran Drio mulai tersadar, ia dapat mendengar suara hempasan ombak keras datang terus menerus. Suara gemuruh angin datang membawa rasa dingin yang menusuk ke seluruh badannya tetapi ada rasa hangat yang ada di dekatnya. Terdengar suara langkah kaki yang menggetarkan tanah.          Perlahan-lahan Drio membuka matanya perlahan-lahan, ia melihat cahaya kuning dalam pandangan yang begitu redup. Kemudian, ia melihat beberapa ekor ikan yang di bakar di atas api unggun, aromanya menyengat membuatnya cepat sadar. Lalu ada seorang laki-laki yang duduk di samping api tersebut sambil menghangatkan kedua tangannya. Drio melihat kedua tangan dan seluruh tubuhnya telah dipenuhi oleh perban. “ Wah kamu sudah sadar yah ! ” Ungkap laki-laki itu dengan ramah. “ Dimana aku ? ” Tanya Drio sambil berusaha untuk bangkit walaupun ia masih merasakan sakit dari seluruh tubuhnya. “ Kau berada di lorong-lorong dalam dinding laut Batavia ” Jawab laki-laki tersebut.          Drio mencoba berdiri

Webnovel / Light Novel Si Kilat Biru Chapter 2 : Sepiring Ikan Bakar

 “Berita terkini, Muncul seekor makhluk buas di wilayah utara yang hilang kendali di mana ada sekitar 5 orang tewas dan 17 orang luka-luka. Pihak angkatan darat masih melakukan penyelidikan atas tragedi peristiwa tersebut.” Ungkap seorang wanita berpakaian jazz pink.          Beberapa saat kemudian, diputarkan sebuah rekaman video amatir tentang tragedi tersebut. Dimana terekam bangunan-bangunan yang hancur dengan kobaran api dan terlihat beberapa orang yang melarikan diri pada malam hari. Terdengar suara gemuruh dan raungan keras dari arah kobaran api. Kemudian, terlihat bayang-bayang kucing besar yang melompat dari kobaran api ke arah perekam tersebut. “Wah .... Wah .... ini bukan berita bagus !” Ungkap Mr Tao yang melihat berita tersebut. “Aku pergi dulu Mr Tao.” Pamit Drio meninggalkan toko tersebut.          Saat pamit, Drio melihat seseorang dengan rambut gelombang dan jenggot tipis secara diam-diam mengambil sebotol anggur. Ia dengan santainya mengambil botol dan menyembunyi

Webnovel / Light Novel Si Kilat Biru : Chapter 1 Drio si Bocah Hitam

           Di atas atap bangunan kayu tua yang tergenang oleh air laut, duduk seorang remaja yang sedang asyik mendengarkan sebuah lagu dari musik box. Dia menikmati musik tersebut sambil memancing di sore hari dimana langit kelabu menutupi wilayah tersebut selama berpuluh-tahun lamanya.          Namanya adalah Drio seorang remaja berusia 13 tahun dengan kulit coklat kehitaman dengan wajahnya yang berbentuk oval. Tubuhnya kurus dan dapat terlihat tulang-tulangnya dengan jelas. Ia mempunyai sebuah bekas luka tipis di bagian alis kirinya. Tidak pernah seumur hidupnya melihat matahari yang sampai hari ini bersembunyi di balik langit tercemar itu bahkan dia pun tidak pernah melihat fajar karena sebelah timur hanya ada tembok laut yang menghalangi pemandangan. Meskipun begitu, ia masih dapat menikmati hembusan angin laut yang menyentuh kepalanya lewat sela-sela rambut keriting pendeknya.          “ Strike !!!” Tiba-tiba, umpan pancing tenggelam dalam air laut yang keruh dan memberikan

Webnovel / Light Novel Si Kilat Biru : Prolog Tembok Laut yang Gagal

        Seseorang remaja laki-laki sedang berjalan di atas air laut yang dangkal. dia berjalan perlahan-lahan mengangkat kakinya melawan tarikan air sambil memegang pundak lengan kanannya yang kesakitan. Matanya menatap kosong ke depan dengan pandangan buram sambil bernafas dengan susah payah. Dengan bibir yang kering ia merasakan rasa haus yang tidak bisa ia tahan. “ Tolong .... Seseorang tolong aku ......” Ungkap dalam kata-kata yang tidak bisa di ucap.          Dia berjalan maju ke depan menuju sebuah pemukiman kumuh di depannya. Baju kaos abu-abu yang kotor terlihat dengan jelas luka segar berbentuk cakar. Darah tubuhnya terus menetes ke bawah dari lengan dan kakinya yang penuh dengan luka gigitan. Gelombang air laut pun menghanyutkan darahnya ke tepi pantai dan memudarkan warna merahnya. Di sekitarnya banyak bangkai ikan-ikan yang tewas dengan bekas gigitan oleh makhluk buas. Mayat-mayat ikan itu mengambang ke tepian dan tersangkut dalam sela-sela bangunan rusak yang terkikis ol

Web novel Langit Ketujuh : Bagian 1 Kota di Atas Langit

  Tiga tahun telah berlalu. Monyet kecil itu tumbuh dengan anak muda tersebut yang memasuki usia 11 tahun. Monyet itu kini telah tumbuh dengan bulu coklat sambil mengenakan kacamata di kapalanya. Ia berayun di tengah kerumunan orang-orang berpegangan pada bagian bagunan yang pada di sana.             Monyet tersebut berayun menuju tempat tertinggi di kota tersebut yaitu sebuah menara jam besar yang ada di tengah – tengah kota kecil. Memanjat dengan bagian bangunan yang tidak rata dengan lincahnya. Saat di puncak monyet itu dapat melihat seluruh kota dari puncak menara tersebut.             “ Crik.....”             Monyet itu kemudian bertukar dengan bocah tersebut, ia berdiri dengan kebangaan sambil melihat monyetnya yang harus memanjat dari bawah lagi. Saat monyet itu sampai, bocah tersebut langsung melempar sebuah pisang kepada monyet yang dimana buah tersebut. Monyet itu langsung menangkapnya dan memakannya sambil terjatuh dari ketinggian.             Dari atas tersebut boca

Web Novel Angkasa yang Ketujuh : Prolog Langit yang Runtuh

 “ Dor ... Dor ... Dor ...”         Suara langit yang gaduh membangunkan seekor monyet kecil dari pelukan induknya. Monyet itu mencoba untuk menutup telinganya tetapi suara gaduh tersebut membuat rasa penasarannya tumbuh. Ia mencoba menyelinap dari induknya tertidur dan melihat langit gelap yang penuh akan cahaya.         Monyet kecil tersebut mulai memanjat dahan pohon secara mengendap-ngendap. Ia menyelinap berusaha menghindari beberapa monyet dewasa yang sedang berkeliling. Monyet dewasa tersebut memarahi monyet kecil lainnya yang terbangun dan penasaran apa yang terjadi di atas langit. Monyet tersebut akhirnya berada di puncak tertinggi dan dapat melihat langit gelap secara leluasa. “ Dor ... Dor ... Dor ...”         Ia melihat beberapa kilatan cahaya kecil dari banyak sudut langit. Suara gumuh tersebut menyebar di berbagai arah dan terdengar semakin keras seolah-olah sumber suaranya mendekat ke tempat monyet tersebut berada. Dan sebuah suara keras dan kilatan cahaya yang men

Postingan populer dari blog ini

Mencari Tuhan dalam Ekonomi

Filosofi kertas Kehidupan

Filosofi Kacamata Bijaksana