Webnovel / Lightnovel Si Kilat Biru Chapter 5 : Bangkitnya kekuatan Listrik Si Kilat Biru

 Drio memegang genggam pintu tersebut sambil meyakinkan dirinya. Seekor anjing yang sedang melompat untuk mendobrak pintu tersebut terkejut melihat Drio berdiri di depannya setelah pintu itu terbuka. Drio yang melihat anjing tersebut memukul dengan pipa besinya sehingga anjing itu terlempar ke jauh belakang. Drio melangkahkan kakinya keluar ruangan dengan gagahnya.

“ Ayo ! aku akan menghajar kalian semua.” Ungkap Drio sambil menodongkan pipa tersebut.

            Tiga ekor anjing melompat dari atas dengan arah yang berbeda. Drio langsung memukul seekor anjing yang datang sebelah kanannya. Kemudian, ia langsung menunduk untuk menghindari dua ekor anjing yang datang dari arah belakangnya. Lalu seekor anjing datang berlari ke arah Drio sehingga secara refleks, Drio langsung mengayunkan pipa besi sambil memutar badan ke arah kiri. Akan tetapi, Anjing itu menggigit pipa besi tersebut dan mendorong badan Drio hingga jatuh telentang

“ Rrr ... rrr ...” Terdengar suara geraman anjing sambil menggigit pipa besi Drio.

            Drio telentang sambil menahan tarikan gigitan anjing yang berdiri di atas kedua kakinya, sambil memegang ke pipa besi tersebut agar tidak di ambil olehnya. Drio dapat melihat dengan jelas dekat gigi runcing anjing  tersebut dan mampu membengkokkan pipa besinya. Bau daging busuk dari hidungnya basah dan air liur yang jatuh membasahi badan Drio. Anjing lain mulai berlari membuat Drio menendang anjing di atas badannya dengan kaki kanannya.

“Ayo maju kalian semua.” Provokasi Drio kepada segerombolan anjing tersebut sambil berusaha berdiri.

            Drio terus mengayunkan pipa besinya sekuat tenaga ke setiap anjing yang melompat ke arahnya. Sesekali ia mencoba menghindar dari serang yang datang terus menerus tanpa henti. Selama mereka bertarung. Drio melirik ke arah atas sambil melihat bayang-bayang seekor anjing yang hanya berdiri di tempat tertinggi sambil mengawasi pertarungan mereka.

“ Ahh..... “ Teriak Drio saat seekor anjing berhasil menggigit paha kiri Drio dari belakang.

            Drio langsung memindahkan pipa besinya ke tangan kirinya dan memukul  ke arah belakang sehingga mengenai kepala anjing yang gigitannya dengan ujung tumpul dari pipa besi tersebut. Anjing itu tidak mau melepaskan gigitannya walaupun Drio telah memukul anjing tersebut bekali-kali. Justru semakin keras Drio memukul, semakin kuat gigitan dari anjing tersebut. Drio akhirnya bisa lepas dari gigitannya setelah anjing tersebut jatuh pingsan.

“ Huh ... huh ... huh ...”  Hela nafas Drio yang mulai kelelahan.

            Serangan datang terus menerus tanpa henti dan Drio mulai merasakan tubuhnya lemas dan sulit untuk berkonsentrasi. Anjing-anjing tersebut masih bisa bangkit kembali dengan cepat walaupun telah menerima hantaman keras dari pipa besi ke tubuh mereka. Drio semakin terdesak karena usahanya sama sekali tidak ada artinya bagi segerombolan anjing tersebut.

            Kemudian, seekor anjing berlari cepat ke arah depannya secara terang-terangan. Drio langsung mencoba mengayunkan pipanya dari arah belakang dengan tangan kanannya. Namun sayang, serangannya gagal karena tangannya yang lelah membuat ayunan tersebut terlalu lemah dan lambat sehingga anjing tersebut dapat mencuri senjata pipa besi dari tangan Drio. Drio pun berdiri bungkuk dengan keadaan dengan kedua tangan yang bergelantungan lemas dan kaki gemetar menahan sakit sambil berusaha untuk tetap berdiri.

“ Ayo habisi aku ! Dasar anjing-anjing sialan !” Ejek Drio sambil tersenyum.

Seekor anjing menerkam lengan kanan Drio. ia langsung berusaha memukul anjing tersebut dengan tangan kiri  bertubi-tubi tapi naas pukulannya terlalu lemas sehingga anjing tesebut masih bisa bertahan. Anjing lain datang menerkam kedua kaki dan bahu kiri Drio sehingga badannya terlalu berat dan membuatnya jatuh ke tanah. Drio mengeluarkan ekspresi kesakitan tetapi ia tidak mampu berteriak kehabisan tenaga. Pandangannya pun mulai buram dan ia kesulitan untuk tetap menahan kedua matanya untuk tetap terbuka.

“ Zap .....” Terdengar suara aliran listrik.

            Telinga sensitif anjing-anjing tersebut secara refleks terkejut mendengar hal tersebut. Kepala dan mata mereka menoleh ke kanan ataupun ke kiri sambil menjulurkan kedua lidahnya. Anjing yang menerkam Drio melonggarkan gigitan mereka karena fokus mereka teralihkan oleh sesuatu yang aneh di tempat itu.

            Aliran listrik biru terlihat bergerak cepat dari tubuh Drio. Anjing yang menangkapnya  langsung melepas gigitan mereka karena merasakan sengatan listrik mengalir di mulut mereka. Suara listrik terdengar semakin keras dan percikan listrik semakin jelas terlihat bergerak dalam tubuh Drio. Para anjing melangkah mundur perlahan-lahan menjauhi tubuh Drio yang dipenuhi oleh aliran listrik.

“ Boom ” Suara gelombang listrik terlepas dari tubuh Drio.

            Anjing-anjing di sana jatuh satu per satu. Tubuh mereka mengalami kejang-kejang karena serangan aliran listrik. Seekor anjing yang mengawasi pertarungan mereka tidak luput dari serangan tersebut. Ia berusaha untuk tetap berdiri tetapi kakinya gemetar tak terkendali untuk mempertahan posisinya. Ia berusaha mengaung sebelum akhirnya ia jatuh ke bawah dan pingsan dari tempatnya mengawasi.

            Dari mulut anjing  itu, keluar gelombang suara yang merambat melewati udara malam. Gelombang tersebut bergerak cepat menyalip udara dan melewati rumah-rumah kumuh. Gelombang suara itu terdengar oleh orang-orang yang sedang beraktivitas di malam hari. Gelombang itu terus bergerak jauh dari asalnya, melewati kobaran api hebat yang melahap sebagian pemukiman kumuh.

            Suara lolongan akhirnya tiba di telinga seorang pria. Dia mengenakan penutup telinga yang terbuat dan masker besi dengan lubang-lubang kecil. Pria itu berjalan dengan sepatu boots di atas lantai kayu yang mengeluarkan kobaran api. Ia melangkah menuju sebuah jendela dengan santai saat dinding tembok terbakar dan langit-langit mulai runtuh.

“ Ogh .... Ogh .... Ogh ....” Terdengar suara segerombolan anjing yang saling menggonggong keras dari jendela tersebut.

            Dari jendela, Pria itu dapat melihat segerombolan anjing yang menyeret orang-orang dengan giginya. Segerombolan anjing lainnya berlari-lari dan melompat dalam bangunan-bangunan yang terbakar. Mereka masuk dan keluar dari kobaran api seolah-olah tidak takut jika bulu-bulu halus mereka terbakar oleh api yang melahap wilayah tersebut.

“ Hu....hu....hu....”

“ Tolong-tolong ...”

“ Ayah ibu dimana kalian ??? ”

            Seorang anak kecil menangis di jalan sambil memegang sebuah boneka beruang yang setengah hangus terbakar di tangan kanannya. Anak itu kebingungan tak tahu harus ke mana ia berjalan. Ia berusaha teriak mencari ayah dan ibunya tetapi hanya bangunan yang terbakar di pandangannya. Asap yang semakin tebal membuat anak itu pingsan kesulitan untuk bernafas. Lalu seekor anjing besar datang dan menggigit leher gadis itu dan membawanya ke dalam kobaran api.

            Pada malam itu, orang-orang jatuh dalam depresi. Sebagian duduk dalam ruang yang terbakar sambil menggigit jari-jari mereka. Sebagian berteriak meminta tolong sambil mengangkat kedua tangan mereka ke arah langit dan berharap sebuah ke mukjizat datang tetapi sayang bulan ternama begitu terlihat indah menjadi saksi dari insiden tersebut.

“ Haley ! Datang kemari !” Teriak pria tersebut memanggil seekor anjing.

            Muncul seekor anjing dalam bayang-bayang asap berjalan keluar dari kobaran api. Bayangan anjing itu terlihat besar dan mengerikkan di ruangan tersebut. Pria yang mengenakan rompi anti peluru menghampiri anjing tersebut kemudian menunduk sehingga kalung nama Kapten Bone terlihat. Bone pun memberikan sebuah instruksi kepada anjing tersebut.

“ Ogh ... Ogh ...” Menggonggong anjing tersebut kemudian pergi setelah memahami instruksi Bone.

Bone kemudian berjalan keluar jendela kemudian mengambil sebuah alat komunikasi kecil berbentuk kotak dari saku kanannya. Kemudian, ia menarik antena keluar dari kotak tersebut dan berkata “ Ini Bone, Si Kucing Hitam ada di Distrik Tembok Laut Utara,  aku ulangi Si Kucing Hitam ada di Distrik Tembok Laut Utara.”

            

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mencari Tuhan dalam Ekonomi

Filosofi kertas Kehidupan

Filosofi Mencuci Piring