Webnovel / Lightnovel Si Kilat Biru Chapter 6 : Pemburuan Si Kucing Hitam di Lautan Api

“ Aku sangat lelah ...”

“ Aku benar-benar lelah ...”

            Kata-kata itu terbenak dalam pikiran Drio yang kemudian tersadar dari pingsannya. Ia sedang duduk dan merasakan udara begitu dingin dari belakangnya serta udara panas yang datang dari depannya. Dia melihat kobaran api yang telah merajalela di tempat dimana ia tinggal. Seketika, ia langsung mencoba untuk mengerakkan tangannya tapi ada dua rantai borgol besi mengikatnya di antara dua balok besi yang di tancapkan.

“ Apa ini ? ”   Tanya Drio yang melihat kedua tangannya terikat.

            Drio memerhatikan sekitarnya. ia menyadari bahwa ia sedang di tahan di atas dinding laut. Drio yang teringat dengan keluarganya berusaha menarik kedua tangannya ke depan tetapi tangannya terasa begitu berat untuk ia tarik. Drio kemudian menutup mata dan mengingat rasa dari kekuatan listriknya. Ia melihat sebuah bola energi berwarna biru yang di aliri oleh listrik bergerak di sekitarnya. Ia mulai merasakan aliran listrik yang ada di kedua tangannya.

“ Ah ....” Teriak Drio yang kehilangan konsentrasi akibat seekor anjing menggigit lehernya.

            Drio baru menyadari bahwa ada beberapa ekor anjing yang berada di sekitarnya. Mereka  berbaring mengawasi sambil menjilat tubuh mereka dengan lidahnya. Ada yang berlari-lari sambil mengejar ekornya sendiri. Ada yang berdiri sambil melihat pemandangan lautan api. Mereka terlihat santai tetapi pengawasan mereka masih tetap waspada.

“ Ogh ... Ogh .....” Seekor anjing menggonggong.

            Mereka dengan sigap langsung berdiri membentuk dua baris saling berhadapan satu sama lainnya. Kemudian, mereka duduk dengan rapi sambil membusung dadanya dan kepala mereka menghadap ke depan. Drio yang melihat itu terheran-heran sambil mengangkat alis kanannya sebab anjing tersebut begitu terlatih dan memiliki pola pikir yang terorganisir.

            Tidak lama kemudian datang bayang-bayang anjing yang berbulu tebal datang kepada Drio.  Drio berkeringat saat melihat seekor anjing yang terlihat ketakutan dengan kedatangannya. Kaki anjing itu gemetar dan matanya terus menoleh ke kanan atau ke kiri, dia mencoba untuk meniru sikap sempurna rekannya tetapi hal itu membuatnya tambah terlihat gugup.

            Drio merasakan aura yang mengintimidasi dari kedatangan anjing tersebut. Ia menelan dalam – dalam ludahnya sambil membayangkan seberapa mengerikkan anjing tersebut. Sebesar apa tubuhnya, seberapa mengerikkan mulutnya, dan seberapa kuat menjadi kumpulan pertanyaan dalam kepalanya. Ketika kepala anjing itu terlihat, Drio terkejut dengan sosok dari anjing tersebut.

“ Ha  ..... Ha ....” Tawa Drio tidak bisa menahan diri.

            Anjing itu datang sambil berlari-lari dengan kaki kecilnya. Matanya yang berbentuk bulat dan ukuran kepalannya sebesar tangan orang dewasa, dan badanya yang begitu mungil membuat Drio tidak bisa menahan tawa. Merasa di ejek, Anjing itu langsung menggigit badan Drio dengan gigi mininya.

“ Argh ....” Teriak Drio merasakan gigitan anjing tersebut.

            Seketika Drio merasakan hawa membunuh datang ke tempat tersebut. Ia langsung menatap ke depan dan tubuhnya penuh dengan keringat. Terdengar suara langkah sepatu dan gesekan rantai yang mengganggu telinga Drio. Drio melihat seseorang setinggi 6 kaki dengan  badan gempal datang.

“ Siapa anak muda ini ? ” Tanya Bone sambil menghampiri Drio

            Drio melihat Bone begitu mengerikkan. Ia melihat seseorang rambut pendek dengan sedikit gejala botak menatap tajam sambil mendekati dirinya. Dia memiliki lengan yang kekar sambil membawa rantai di tangan kirinya. Darah segar masih menetes dari rantai yang Bone bawa. Dia mengenakan masker besi hingga menutupi ke dua telingannya sehingga ada suara bising saat dia bicara.

“ Aku mencium bau si kucing hitam.” Ungkap Bone saat mendekati Drio.

            Bone pun menunduk dan mengendus tubuh Drio dengan hidung yang ada di balik masker besinya. Nafas dari hidungnya terdengar kasar karena pantulan dari sela-sela besi. Tubuh Drio di basahi oleh air liur yang jatuh dari masker besi Bone. Kemudian, Ia menatap tajam Drio dengan rasa penasaran sehingga Drio langsung mengalihkan pandangannya.

“ Apa hubunganmu dengannya ? ” Tanya Bone

“ ....” Drio diam membisu.

“ Aku tanya sekali lagi. Apa hubunganmu dengannya ?” Tanya Bone dengan lantang sambil menujukan wajah seramnya.

“ Aku ..... tidak .... tahu ... siapa dia !” Jawab Drio dengan kata yang terbantah-bantah.

            Tiba-tiba seekor anjing berwarna hitam kecokelatan datang berlari menghampiri Bone dari arah kejauhan. Bone yang menyadari anjing tersebut berbalik arah dan meninggalkan Drio. Mereka kemudian berbicara satu sama lain dimana Bone hanya menunduk dan anjing tersebut bergerak-gerak dengan bahasa isyarat yang tidak bisa dipahami oleh Drio.

“ Ayo anak – anak ! Ada hal yang harus kita kerjakan ! ” Instruksi Bone kepada anjing-anjing dan meninggalkan Drio.

            Tersisa Drio yang terantai dan anjing tersebut. Anjing itu menghapiri Drio yang begitu lemas dan ketakutan. Lalu, ia menjilati wajah Drio yang syok dengan lidahnya. Drio merasakan terkanannya berkurang dan tubuhnya sudah tidak gemetar seperti sebelumnya. Drio mengingat bahwa itu adalah anjing yang ia bantu sebelumnya.

“ Terima kasih kawan !” Ucap Drio.

            Anjing tersebut kemudian menggigit rantai yang mengikat Drio. Gigitan anjing itu begitu kuat sehingga mampu mematahkan rantai tersebut. Drio akhirnya jatuh berbaring dan dapat merasakan tangan dan badannya lemas tidak berdaya. Anjing itu kembali menjilati wajah Drio agar tetap sadar tetapi  Drio sudah kehabisan tenaga. Sebelum ia tertidur, Drio melihat sebuah kalung yang tertulis nama “Dante” di  Anjing yang menolongnya itu. Drio akhirnya bisa beristirahat setelah semua kejadian yang terjadi pada hari itu.

            Keesokan pagi harinya, Drio berjalan-jalan dengan badan kotor kecokelatan, luka-luka bekas gigitan, dan lapisan perban yang terbuka. Wajahnya terlihat kusam dan memiliki tatapan kosong. Ia hanya berjalan ke depan tidak peduli pada apa yang ada di sekitarnya.

            Ia berjalan di antara rumah-rumah yang hancur dan sebagian telah hangus terbakar. Puing-puing bangunan penuh dengan warna hitam. Abu yang bertebaran dimana-mana membuat langkah Drio meninggalkan jejak sepanjang perjalanan. Beberapa orang mencoba membongkar sisa-sisa bangunan dan berharap barang berharga yang selamat. Sebagian lainya berjalan dengan sedih dan ada yang berteriak tidak jelas melampiaskan kesialan yang terjadi.

            Drio akhirnya tiba di depannya rumahnya yang telah hancur di makan oleh api dan menyisakan puing-puing bangunan. Ia langsung menjatuhkan tubuhnya ke depan sambil memukul-mukul tanah berulang kali. Ia menangis penuh dengan penyesalan dan tidak percaya semua ini telah terjadi begitu cepat.

“ Kenapa ini harus terjadi ?”

“ Aku mohon ....”

“ Ini sungguh ...”

“ Ha ha ha... Itu malam luar biasa ! Ha ha ha” Tertawa seseorang pria yang duduk disana sambil minum sebotol anggur.

“...” Drio terdiam dan melihat Pria pencuri toko Mr Tao ada di dekat sana.

“ Si Kucing Hitam telah menujukkan taringnya ! Ha ha ha dan itu ....”  Terhenti kalimat pria itu untuk meneguk anggurnya.

 “ Itu sungguh menakjubkan Ha ha ha !”

            Drio akhirnya menyadari siapa sebenarnya si kucing hitam. Ia adalah Leon seseorang yang telah menolongnya dan mengobatinya sehingga anjing-anjing itu mencium bau si kucing hitam pada tubuhnya. Drio merasakan rasa amarah yang tumbuh dalam hatinya. Ia kemudian berdiri dan mengusap kedua matanya yang penuh air mata. Ia masih mengingat sebuah obrolan sebelum mereka berpamitan.

“ Jadi ke mana engkau akan pergi ? ”  Tanya Drio,

“ Aku ingin mencari seseorang yang bisa memperbaiki kendaraan favoritku di Pelabuhan Crack ! ” Jawab Leon sambil tersenyum.

Bersambung ...

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mencari Tuhan dalam Ekonomi

Filosofi kertas Kehidupan

Filosofi Mencuci Piring