Filosofi Ramadan dari Santri Biasa yang Puasa


Gambar : Kitaumroh.com

“Ibadah di bulan Ramadhan harus tetap habis-habisan karena tahun depan belum tentu kembali merasakan.” 

Demikian prinsip umum yang dipegang teguh bagi kaum-kaum religius, prinsip yang lebih sering menjadi wancana daripada laksana bagi orang-orang biasa yang masih muda dan menikmati hidup. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) santri adalah orang memperdalam agama tapi pada umumnya santri itu sama dengan pelajar yang sama-sama memperdalam ilmu. Oleh karena itu, dalam kesempatan kali ini penulis ingin menyampaikan pandangan dari santri (agar terlihat religius) tentang momen-momen puasa yang bikin noslagia. 


Ada banyak sekali hal yang dinantikan di bulan puasa, hal yang pertama bikin kangen itu bukan dari sahur yang mengajak makan bersama keluaga atau hikmah merasakan kesulitan dari orang-orang sulit mencari makan, melainkan musim berburu kuliner edisi terbatas yang hanya datang di bulan tersebut.

Pekerjaaan Sampingan Bisa Work From Home

    Di bulan ramadan, ada yang namanya takjil gratis yang bisa mengobati rasa gatal dari lidah dan membuat dompet bisa lebih irit dari uang cemilan dan jatah makan siang. Namun, kenyaataannya bisa lebih irit itu jarang terjadi karena banyak sekali kuliner yang hanya tersedia di waktu itu, contohnya kolak. Rasanya tidak lengkap bila melalui bulan ramadan tanpa mencicpi kuliner tersebut, sedikit pengorbanan tidak masalah tapi sampai lupa sisa uang saku.    

    Masih tidak jauh-jauh dari pengeluaran, agama mengingatkan kita untuk menahan godaan nafsu rohani dan jasmani, hal itu bisa diatasi karena godaan yang paling berat adalah barang diskon dari promo khusus bulan ramadan yang potongannya tidak main-main. Selain itu, ada godaan yang hampir mustahil untuk ditolak bagi santri yang masih ingat teman, yaitu acara buka bersama yang rutin diadakan setiap tahun, mulai dari buka bersama kelas hingga organisasi yang diikuti. Pengorbanan wajib untuk mennyambung hubungan dengan yang lain itu penting, lagipula silaturahim membuka pintu rezeki. 

Selain itu, ada keajaiban yang sampai orang-orang sebut bulan ramadan setan-setan sedang dibelenggu sehinga tidak menggoda manusia.   Pendapat tersebut tidak sepenuhnya salah karena orang-orang yang awalnya kurang benar dalam bertindak, tiba-tiba berubah menjadi religius. Pada awalnya sulit untuk bangun sholat subuh atau lebih seringgnya kesiangan, berubah menjadi bisa sholat tepat waktu karena ada insting bertahan hidup yang menyala karena waktunya sahur atau tewas di siang hari.

Di bulan ramadan, waktu yang dijalani itu terasa lebih berkualitas dibandingkan dengan hari-hari biasa. Dimulai dari waktu sahur bersama keluarga yang begitu berharga hingga detik-detik menjelang azan maghrib yang menjadi simbol kalau bahagia itu bisa begitu sederhananya. Malam hari terasa lebih hidup karena adanya sholat tarawih walaupun beberapa orang menjadi nokturnal di sepanjang malam dan beristirahat di siang hari hingga waktu berbuka tiba. Banyaknya nikmat yang dirasakan membuat ramadan cepat berlalu tanpa kita sadari.

Baca Juga : Obat Sakit Hati Spesial Ramadan







Komentar

  1. Ramadhan udah menjadi momentum yang sangat berkesan dan terjadi setahun sekali. Sahur, ngabuburit dan masih banyak hal tetapi ramadhan kali ini sedikit berbeda karena adanya wabah. Semoga ramadhan tahun depan menjadi normal kembali, silaturrahmi tanpa adanya was-was-an lagi.

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mencari Tuhan dalam Ekonomi

Filosofi kertas Kehidupan

Filosofi Mencuci Piring