Detik-Detik Panjang Pengibaran Bendera

 Mungkin bagi anak SMA kebanyakan upacara itu adalah hal yang biasa dilakukan di hari senin tapi akan berbeda cerita bagi anak madrasah karena kami sangat jarang melakukan upacara bendera karena keterbatasan waktu yang kami punya. Bayangkan kalian masuk pukul 6.30 hingga pukul 15.00 dikurangi istirihat 45 menit, jadi total jam belajar kami itu sekitar 8 jam lebih belum lagi dengan pekerjaan rumahyang diberikan. Selain itu kami juga harus belajar di hari sabtu sekitar 5 jam Hal itu semua dilakukan demin memunihi target sistem kredit semester.

Namun, saya saja tidak sadar semua itu telah berlalu apa mungkin rasa malasku untuk memikirkan hal tersebut atau prinsip yang penting dijalani saja. Setidaknya masa neraka tersebut sudah dilalui walaupun saya sendiri kadang bingung disana itu belajar apa saja.

Kembali ke topik, saya masih ingat dengan yang namanya ekstrakuikuler pengibar bendera dimana ekstrakuliler itu adalah organisasi ayng menyebak anak-anak polos yang baru masuk dan apalagi saya anak rantau yang sebelumnya sangat kecanduan game yang berlebihan.

Saat awal masuk kelas 10 atau masih masa orientasi sekolah, saya tidak berpikir anak bungkuk seperti saya ini akan dipilih untuk menjadi pasukan pengibar bendera 1 Oktober. Awalnya saya tidak ingin ikut karena trauma saya pada upacara masa orientasi saja upacaranya bisa selama 2 jam. Ada saja yang ingin disampaikan kepala sekolah sehingga membuat kaki saya yang jarang fisik terasa pegal-pegal semua.

 Namun, para senior pengibar bendera atau lebih akrabnya saya sapa dengan abang untuk senior laki-laki dan kakak untuk senior perumpuan mencoba menyemangati saya untuk bertahana dengan iming-iming diwajibkan oleh sekolah sehingga saya masih polos ini terpaksa ikut latihan.

  Awal latihan itu sekitar pertengahan bulan juli, dimana kami dipaksa untuk latihan fisik yaitu push up, sit up, dan back up serta lari dengan jarak tertentu. Secara umum latihan fisiknya mudah bagi teman-teman saya tapi bagi seorang yang benci sekali yang namanya olahraga rasanya sudah membuat saya tersiksa.

 Mulai dari tangan yang pegal semua padahal baru 2 kali push up, perut yang terasa kram padahal ada lebih baiknya saya dikatakan karena sangat memalukan, punggung dan kaki yang terasa pegal setelah bangun tidur. Sebernarnya, saya sedikit malu dengan yang lain karena begitu lemahnya fisik saya tapi entah kenapa itu menyenangkan untuk diceritakan.

 Dari awal pelatihan ini saya mulai banyak mengenal teman-teman baru yang menjadi korban partisipasi. Saya mulai banyak mengenal orang-orang yang berasal dari banyak daerah dan membuat saya mengerti akan perbedaan budaya dan karaketer dari setiap orang sekaligus menjadi alasan saya sering dimarahi oleh abang senior karena kelemahan yang sulit untuk mengafal dan mengingat nama lengkap dari seseorang.

 Awalnya abang dan kakak senior itu terlihat manis hingga masuk bulan agustus dimana senyuman itu adalah senyuman palsu. Semakin dekat hari pengibaran maka semakin keji dan pedas mulut mereka. Tidak hanya mulut saja pedas, mereka semakin sering memberikan hukuman berupa push up berkali-kali dan itu membuat saya tertekan apalagi dengan tugas yang semakin menumpuk dari sekolah. Setidaknya saya belajar satu hal dari senior yang keji itu tentang yang namanya sebuah senyuman palsu dan senyuman yang tulus dan mungkin akan saya ceritakan di lain kesempatan.

 Salah satu kebiasaan kami dalam latihan yaitu menyanykan lagu yang dikreasikan seperti yang dilakukan oleh tentara agar membakar semangat kami. Saya sadar suara saya tidak bagus sehingga saya harus memelankan suara saya tapi itu malah membuat saya dimarahi dan kadang saat lari, kuping saya terasa nyeri apabila mendengar seorang yang menyanyi terlalu semangat tapi kuliasa suaranya bisa dibilang yaa begitu pokoknya.

 Kadang saya bertanya-tanya dengan orang-orang luar yang sering mendatangi sekolah cuma hanya ingin melihat kami yang sedang latihan. Para senior bilang mereka adalah alumni dari ekstrakuliler yang sama dengan kami. Kadang beruntung yang menejenguk kami ada alumni yang cantik ditambah fashion anak mahasiswa yang sedap dipandang. Sebagai insting laki-laki, mata saya tidak sengaja melirik karena energi yang dipancarkan dan namanya senior begitu teliti sehingga membuat saya dihukum karena perbuatan tersebut.

 Semakin hari sebenarnya saya ingin memundurkan diri karena kejamnya paras senior walaupun ada yang mencoba menyemati tapi yang tertanam pada saya adalah kata kasar mereka yang khas seperti nama hewan bebek karena hanya ikut-ikutan saat disuruh menjawab dengan kopak dan nada marah yang hampir setiap 5 menit terdengar dan akhirnya membuat telinga saya kebal dan apapun yang mereka katakan, masa bodoh akan hal tersebut.

 Hingga akhirnya datang tanggal 30 Sepetember, sehari sebelum pengukuhan kami para calon pengibar bendera harus menginap disekolah. Latihan terasa lebih ringan karena harus menjaga kondisi fisik sebelum besok sebuah upacara tanggal 1 Oktober. Saya merasa para senior sudah pasrah karena kami masih dibilang belum layak tapi tanggal sudah tiba, sudah tidak lagi kata mundur.

 Awalnya saya merasa kecewa karena tidak tidur di asrama saja daripada tidur di kelas, lagipula asrama itu ada kasur empuk yang bisa tubuh lebih bugar tapi demi kekompakan akhirnya kami semua harus tidur dikelas hingga jam-jam berharga yang tidak bernilai harganya mewarnai sejarah hidupku yang sebelumya tidak berguna.

 Sekitar pukul tujuh malam, kami bersiap untuk melakukan pengukuhan. Banyak sekali yang merasa terpesona dengan pakain dinas upacarayang terlihat begitu gagah dengan baju serba putih, sepatu fantofel hitam yang bisa membuat saya terlihat tinggi, dan kopyah hitam yang membuat kami terlihat lebih alim. Dibalik kemagahan itu juga ada atribut yang sangat ketat aturannya dan apabila atribut itu jatuh maka hukuman ribuan push up sudah siap menanti.

 Beberapa saat kemudian waktu pengukuhan telah tiba, kami semua berbaris membentuk huruf U disaksikan oleh para senior dan alumni. Saat pengukuhan dimulai rasanya atmosfer ruangan terasa berbeda entah kenapa rasanya begitu, ditambah lagi saat lampu ruangan dimatikan sehingga hanya bayang-banyang terlihat. Saat lagu “Padamu Negri” mulai menggema di dalam ruangan rasanya tubuhku merinding, saya rasa ada hantu yang sedang berada diruangan tersebut ditambah disaat seorang senior berkeliling membawakan bendera dan menyuruh kami untuk mencium bendera tapi sayang saya tidak sempat karena ia jalan telalu cepat.

 Setelah pengukuhan kami keluar aula dengan barisan rapi, entah kenapa seluruh lampu sekolah terlihat sekolah. Dari arah teribun terlihat sekumpulan cahaya yang menyala tidak terlalu terang. Kami berjalan menuju tribun dimana sebuah tiang bendera berdiri gagah disana. Semakin mendekat maka semakin terdengar nyanyian dari para senior, mereka membawakan sebuah lagu “Syukur” bersamaan dengan sebuah puisi yang dibacakan oleh perwakilan dari mereka.

 Di bawah malam dan bintang-bintang hari ini, mereka menyampaikan pesan-pesan berhaga untuk kami. Pesan itu membuat kami semua mengenang semua derita yang telah dilalui, semua lelah yang dirasakan bersama. Kata-kata itu tidak hanya sebuah kata yang dirangkai indah tapi kata-kata itu benar-benar mewakilkan semua rasa hati mereka.

 Entah bagaimana sebuah rasa kecewa dan amarah itu bisa terasa indah, apakah ini yang disebut kebersamaan yang sesungguhnya ? Entah kenapa ada kebanggaan tersendiri walaupun lebih banyak kegagalan yang terjadi. Sebagian dari kami meneteskan air mata sambil memegang tiang bendera dan sebagian memegang pundak masing masing.

 Setiap mata kami terpukau akan ketulusan mereka yang pada saat itu berdiri tegak dengan rasa bangga. Cahaya redup dari kumpulan lilin yang menyala membuat kami tersadar semua kerja keras ini. Lalu sebuah perintah diucapakan dari seoang abang dengan gagahnya.

“ Untuk Pasukan Pengibar Bendera 1 Oktober, Bentuk Formasi Barisan !!!.”

 Kami berlari mengganti pakain kami untuk sebuah gladi suci sebelum pengibaran paling sakral di sekolah kami. Dan ini adalah momen terakhir di hari ini sebagai awalan sebelum akhir kerja keras kami. Semua pengalaman ini mengajarkan aku satu hal penting.

 “ Berjalan di kegelapan bersama teman lebih baik dari pada berjalan sendirian di dalam terang.” Hellen Keller

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mencari Tuhan dalam Ekonomi

Filosofi kertas Kehidupan

Filosofi Mencuci Piring