Hidup itu dibawa simpel

 

 Ada sebuah kabar yang membuat saya ingin menulis sesuatu yang singkat, kabar tersebut berisi tentang pulangnya salah satu guru saya yang pernah mengajar saya di kelas 12 dan beliau mengajar mata pelajaran pendidikan kewarganegaraan.

Mendengar hal itu membuat saya cukup kaget dan akhirnya saya memutuskan untuk mengingat pelajaran apa yang beliau ajarkan tapi masalahnya saya lupa semua pada apa yang beliau ajarkan.

Masih teringat di benak saya bagaimana caranya mengajar. Beliau hampir selalu atau mungkin selalu menggunakan powerpoint dengan latar belakang polos berwarna putih kecoklatan yang isinya itu hanyalah tulisan penuh dan tidak pernah menampilkan gambar sedikitpun.

 Jumlah slide di powerpoint beliau itu bisa sekitar 40 halaman atau bahkan lebih. Kata-kata yang ditampilkan di powerpoint beliau itu persis sama dengan yang ada di buku paket tanpa ada perubahan kata ataupun pengurangan kata sedikitpun jadi tidak salah kalau itu lebih terasa seperti sebuah copy paste dari sebuah buku. Beliau  sungguh peka karena saya tidak pinjambuku paket dari perpustakaan jadi saya hanya fokus pada apa yang didepan walaupun lebih sering tertidur daripada memerhatikan.

Cara beliau mengajar sangat mudah diingat, belaiu hanya duduk di meja tanpa berpindah sedikitpun dan menjelaskan secara singkat yang tidak sampai satu menitpun akan pindah ke slide berikutnya. Mungkin bagi kalian yang membaca ini, beliau terlihat guru yang penting ngajar dan tidak peduli

 Namun, bagi murid-muridnya. Beliau adalah guru yang paling simpel karena seingat saya, beliau hanya memberikan tugas 1 saja dalam 1 tahun pelajaran. Beliau sangat perhatian kepada kami yang kelas 12 dan mengerti bahwa kami harus fokus dengan pelajaran utama agar bisa mendapat nilai bagus di ijazah dan persiapan perguruan tinggi.

Ciri khas lainnya adalah ketika beliau menyelesaikan sebuah sub bab maka beliau akan berkata “ Ada pertanyaan ?” dan belum sedetik beliau mengucapkan pertanyaan tersebut tapi beliau langsung menjelaskan slide berikutnya. Pernah saya iseng bertanya dengan pertanyaan yang kritis tapi dapat beliau jawab dengan sesederhana mungkin dan sesingkat mungkin.

Di balik sifat itu semua, beliau sebenarnya sangat ahli dalam menjelaskan sesuatu. Seperti kata Einsten kalau anda bisa dianggap paham jika anda dapat menjelaskan sesuatu secara sederhana. Seperti itulah beliau  yang sering membawa contoh sederhana yang lucu dari kehidupan sehari-hari tapi waktu jam mengajar beliau yang selalu di saat akhir, membuat saya sering tak berdaya karena siang yang melelahkan dan jumlah materi yang sangat banyak di jam sebelumnya.

 

Beliau sering sekali menjadi imam masjid dan menjadi pemateri pidato pada hari Jum’at maupun acara yang diselenggarakan pada bulan ramadan. Pernah saya melihat isi laptop beliau yang berisi mp3 surat Al-Quran dari juz 1 sampai 10 atau ayat-ayat di tulis itu sekitar 200 halaman. Saat beliau memberikan tugas sederhana untuk pertama kali dan terakhir kali kepada saya. Beliau terlihat memutar mp3 tersebut sambil mendengarkan dengan santai sembil bibir beliau mengeja ayat-ayat yang diputar tersebut.

 

Dari kebiaasan ini, saya belajar satu hal yang luar biasa yaitu apapun masalah yang dihadapi harus dengan cara paling simpel. Di saat, beliau sibuk sekali dengan jumlah jam mengajar yang padat, beliau ambil cara paling mudah dalam mengulang ayat-ayat tersebut daripada sibuk membaca setelah hari-hari yang melelahkan.

Sebenarnya semua masalah dalam hidup manusia itu intinya hanya itu-itu saja. Namun, sebab kondisi dan waktu serta hal-hal lain membuat sebuah masalah itu terlihat rumit. Sama seperti menyelesaikan sebuah soal matematika, jika kita bisa menyerdehanakan soalnya maka akan lebih mudah jika kita menemukan jawabannya.

Beliau adalah orang luar biasa walaupun terlihat sangat biasa karena ketika diadakan doa bersama atas meninggalnya beliau. Kondisi yang tidak memungkinkan untuk berkumpul karena pandemi membuat acara doa tersebut dilakukan secara online.

Di saat doa tersebut, terlihat dan terdengar suara tangisan dari para guru. Dari hal itu, saya menyadari bahwa beliau adalah orang dekat dengan orang-orang sehingga orang-orang yang beliau tinggalkan begitu tulus mendoakan beliau dan suasananya itu benar-benar tidak terikat dengan ruang. Atmosfer doa tersebut benar-benar saling mendoakan walaupun dari jarak berjauhan

Moral sederhana ini yang bisa diwariskan dan lewat tulisan ini, saya harap amalan beliau diterima disisinya dan menjadi amalan yang tidak terikat ruang maupun waktu.

 

 

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mencari Tuhan dalam Ekonomi

Filosofi kertas Kehidupan

Filosofi Mencuci Piring