Modal Doa Buat Investasi Saham

 Percayakah anda dengan yang namanya kekuatan doa ??? Tentu, bagi beberapa orang mempercayainya dan sebagian mungkin tidak tapi peran doa itu sangat berpengaruh terhadap bagian kehidupan saya walaupun terkadang saya sendiri sangat malas untuk berdoa.

Kejadiaan ini terjadi ketika saya menginjak kelas 10 semester 2 dan pada saat itu sedang ada pelajaran ekonomi. Waktu itu saya sangat malas dengan ibu guru yang mangajar pelajaran tersebut karena yang diajarkan hanyalah materi dan sisanya hanya mengerjakan soal-soal laithan tidak ada analisiyang membuat gerigi otak saya bekerja.

 Mungkin ibu guru tersebut sedang melihat saya malas untuk menerima mengerjakan soal-soal sehingga ia menyuruh saya untuk menjawab salah satu soal. Kebetulan waktu itu bab yang diajarkan itu tentang pasar modal dan karena saya belum mengerjakan sehingga membuat saya kebingungan tapi untung saja ada teman sebelah yang mau berbagi jawaban.

Sepertinya ibu guru tersebut sadar jika saya masih belum mengerjakan dan mendapatkan jawaban dari teman sebelah. Namun, guru tersebut sangat sering mendoakan siswanya walaupun terlihat bermalas-malasan. Saya masih sedikt ingat dengan ucapan yang beliau ucapkan kepada saya.

“ Semoga punya modal yang banyak sehingga bisa jadi Investor.”

Saya tidak peduli dengan apa yang beliau ucapkan, lagipula mungkin butuh waktu yang lama bagi saya agar bisa terjun ke dunia investasi karena saya hanya dari orang yang bisa dibilang berkecukupan untuk hidup dan mungkin ini yang namanya butterfly effect, dimana sebuah hal kecil melahirkan tindakan yang besar.

 Siapa sangka doanya itu dikabulkan. Semua itu berawal dari sebuah ketertarikan saya dengan sebuah buku yang berjudul “Yuk Nabung Saham” yang berada di gerai toko buku ketika kelas 11 semester 2 dan tidak perlu waktu lama buku tersebut tamat kurang dari 24 jam.

Setelah membacanya, saya merasa menyesal karena kondisi uang saku yang selalu habis setiap bulan membuat saya berpikir “kapan saya bisa mulai nabung saham ?” Walaupun jumlah yang diminta tidak terlalu banyak tapi tetap saja terasa sulit untuk melakukannya.

Kalau tuhan sudah berkehendak maka ada saja jalan yang Beliau tunjukkan. Jalan itu terjadi saat 2 minggu sebelum memasuki kelas 12. Mungkin karena libur yang lebih dari 1 bulan membuat jatah uang jajan saya masih ada sehingga membuat saya binggung eneknya mau dibeli apa ??? Akhirnya, saya putuskan untuk mulai investasi saham.

Tidak adanya kantor sekuritas di tempat asal saya membuat saya untuk kembali lebih awal ke asrama sekolah saya di Malang. Bermodalkan alasan untuk membantu persiapan penghuni asrama baru padahal cuman ingin numpang singgah saja. Saya sampai berbohong kepada orangtua saya karena mereka pasti tidak setuju sebab takut ditipu tapi karena perbedaan jam terbang membuat saya tetap lanjut tanpa pikir panjang 

 Pada akhirnya saya harus ikut menyiapkan asrama anak-anak baru karena salah satu pengasuh tahu saya sudah kembali. Pekerjaan itu melelahkan dan menjegkelkan, bagaimana tidak ? para penghuni baru ini akan mendapatkan gedung baru, interior modern, dan fasilitas lebih daripada saya sebagai penghuni yang lebih senior. Setidaknya peristiwa itu membuat saya tidak berbohong kepada orang tua saya

Keesokannya saya mendatangi kantor sekuritas. Saya mendatangin kantor BNI Sekuritas cabang Malang. Saya memilihnya kerena alasan intergritasnya yang sudah banyak dikenal oleh investor ulung serta biaya setiap transaksi yang lebih murah walaupun alasan dominannya ialah jarak kantor yang dekat asrama sehingga bisa jalan kaki “hemat transportasi” dan perusahaan itu milik negara sehingga saya lebih percaya daripada perusahaan lain.

Banyak dokumen yang harus disiapkan, pada waktu itu saya harus menyiapkan buku tabung senilai satu juta, Kartu Tanda Penduduk dan Nomer Pengguna Wajib Pajak (NPWP). Walaupun saya tidak punya NPWP setidaknya saya diberitahu oleh pihak sekuritas boleh bentuk foto, jadi saya foto NPWP orangtua saya.

 Awalnya pihak sekuritas sedikit kaget ketika saya menjawab bahwa saya baru kelas 12 yang datang sendiri tanpa diantar orangtua. Mereka bertanya kenapa seorang yang belum kuliah mau terjun ke dunia pasar modal. Saya jawab dengan alasan-alasan yang ada di buku yang sebelumnya saya baca padahal alasan sebenarnya itu karena saya mencari kegiatan daripada mengganggur di rumah.

 Setelah mengurus semua dokumen, mereka berpesan untuk menunggu beberapa hari atau mungkin minggu depan dan nanti akan pihak di kantor pusat yang akan menelpon langsung untuk melakukan konfirmasi ulang.

Saya kaget dengan hal tersebut kerena jika dia menelpon minggu depan maka saya sudah waktu masuk sekolah dan gawai tidak boleh digunakan baik di sekolah maupun di asrama. Selain itu, kondisi gawai saya yang sudah layak pensiun karena sudah sering mati sendiri, sinyal sering hilang, dan sering lemot.

Hari-hari esok saya selalu siaga dengan gawai saya, baterai sering habis membuat saya harus sedia dengan kabel pengisi daya. Setiap jam masuk kantor, saya lebih memilih untuk berdiam diri di kamar asrama daripada meninggalkan sebuah panggilan masuk.

 Kadang saya pernah meninggalkan sebentar saja untuk membeli makan siang tapi ada nomor tidak dikenal masuk. Sebab tidak tahu dengan nomor berapa saya akan dihubungi, membuat saya langgsung membeli pulsa agar bisa menghubungi balik tapi ternyata saya menghubungi seorang penjual tidak jelas dan sejak saat itu saya sangat berhati-hati dalam membagikan nomor terlpon.

Hingga pada hari Kamis saya mendapat telpon dari kantor pusat, ada hal yang memalukan karena saya kesulitan untuk menyebutkan alamat email yang saya daftarkan. Nama yang sulit dibaca membuat saya harus mengeja satu-satu dan pada esok harinya saya baru bisa menggunakan software untuk bisa melakukan transaksi saham.

Pertama kali buka sofware itu cukup membingungkan bagi saya karena banyak tombol-tombol tidak jelas serta grafik-grafik yang sangat banyak. Baru hari pertama buka saja, belum 1 jam akun saya pernah diblokir karena saya bingung cara membedakan yang namanya PIN dan Password.

Saham pertama yang saya beli adalah perusahaan Telkom Tbk dengan kode TLKM. Rasanya sangat senang sekali, jadi begini rasanya jadi salah satu pemilik atau bos di perusahaan besar. Mungkin itu kekanak-kakanakan tapi itu pengalaman berharga bagi saya.

Hal itu hanya perjalanan awal saya dalam pengalaman dunia pasar modal sebab masih banyak hal yang diluar dugaan saya yang membuat saya harus punya wawasan luas dengan dunia trading yang penuh dengan bandar-bandar dan sempat membuat saya rugi yang mungkin bisa saya ceritakan kesempatan lain.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mencari Tuhan dalam Ekonomi

Filosofi Kacamata Bijaksana

Filosofi kertas Kehidupan