Pendidikan yang Jahat tapi Indah

Jika anda adalah anak SMA maka anda harus lebih bernsyukur karena anda belum mengerti betapa kejamnya yang namanya pendidikan madrasah  itu. Belum lagi ditambah dengan yang namanya kehidupan asrama. Percaya atau tidak,  pendidikan itu seperti sebuah neraka yang akan menyiksa hari-harimu.

Jika  di SMA, anda bisa sekolah dari hari Senin sampai Juma’t sekitar 8 jam maka kami anak madrash harus mengambil tambahan hari di hari sabtu sekitar 5 jam karena jumlah mata pelajran yang lebih banyak dari pada sekolah umum. Belum lagi dengan  ekstrakuliler pramuka yang bikin jengkel.

Siksaan disana datang bertubi-tubi, mulai dari tugas-tugas dan pekerjaan rumah yang datang setiap hari dan terus silih berganti seolah tanpa akhir. Lebih parah lagi jika tugas itu tentang powerpoint ataupun word itu sudah buat hidup saya strees karena pembatasan penggunaan laptop yang hanya bisa dipakai di jam tertentu dan itu berlum dengan kendala sinyal wifi yang dibajak oleh orang-orang brengsek.

Selama 3 tahun saya menderita dengan banyak pelajaran yang harus dipelajari di sekolah sedangkan guru harus mengajari satu pelajaran saja. Hal itu belum ditambah pelajaran asrama yang sulit bagi saya yang latar belakang SMP Negri tentang pelajaran pondok pesantren.

Sering sekali cemburu itu datang karena larangan penggunaan gawai. Apa masuk akal dengan yang namanya larangan penggunaan gawai sedangkan tuntutuan tugas selalu mengarahkan yang namanya internet.

Rasanya hidup tersebut tidak menyediakan waktu untuk bernafas sebentar, belum lagi dengan kewajiban untuk memenuhi target nilai yang rasanya serba salah jika tidak mendapat nilai bagus. Setiap orang itu berbeda dan kita itu punya bakat masing-masing tapi bakat-bakat itu. hanya disampingkan dan bahkan ada yang tidak diakui sama sekali.

“Tapi, kenapa rasanya rindu ???”

Saya tidak tahu kenapa begitu rindu dengan tugas-tugas yang mengajarkan apa itu lelah sehingga membuat yang namanya tidur itu terasa nikmat. Rindu rasanya mengenang acara nonton film bersama dan candaan kelas walaupun kadang itu menyakitkan hati. Rindu rasanya ingin bertemu dengan si dia walaupun tak tahu harus berkata apa jika ingin bertemu kembali. Rindu ketika harus berjuang bersama-sama dalam meraih impian masing-masing.

“Kenapa rasanya ingin tertawa sendiri saat mengingat masa-masa bodoh tersebut ???”

Masih teringat akan perilaku bodoh tapi menghibur banyak orang walaupun harga diri ini harus dibuang. Entah kenapa ? bisa melewati segala ujian yang diberikan dan semua remidi yang telah berlalu. Entah kenapa ?  masa-masa bodoh itu yang banyak memberikan pelajaran daripada hal yang bisa dilakukan.

“Dari masa bodoh ini yang akan menjadi cerita ketika reuni tiba.”

 Tentang guru...

  “Maaf jika terlambat sadar ....”

Beruntung bagi kami yang memiliki ayah dan ibu tapi tidak bagi yang yatim piatu. Beliaulah yang gantikan doa dari orang tua kadang pada yang tidak memiliki. Bukankah semakin banyak orang maka semakin banyak kebaikakan dari doa ??? Mungkin ini yang namanya pelajaran multikultural dimana belajar menghargai hanya bisa dilakukan lewat beranekaragam perbedaan.

Tentang Internet ...

 Terima kasih karena mengingatkan kami akan sebuah tawa yanng sebenarnya dan keringat dari yang namanya sebenarnya. Mungkin kami tertutup dengan dunia luar tapi sebagai gantinya kami menghargai pada apa yang dekat dengan kami.

Tentang Bakat...

Kenapa begitu malasnya diri ini. Mereka yang punya bakat tidak menunggu diakui, mereka terus mengasah bakat mereka walaupun dengan segala keterbatasan karena hanya dengan keterbatasan peradaban manusia itu bisa maju.

Ini yang namanya hidup ...

Kita tidak akan mengenal cahaya tanpa kegelapa dan itu seperti kita mengenal yang namanya kebahagiaan karena adanya rasa sakit.

Hal ini hanya sebagian kecil yang saya tulis karena sisanya hanya orang-orang yang pernah mengalami yang bisa mengerti.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mencari Tuhan dalam Ekonomi

Filosofi Kacamata Bijaksana

Filosofi kertas Kehidupan