Perjuangan Budak Cinta demi Almamater Kuning

 


    Filosofi A-Z  Apapun alasan anda untuk memperjuangkan sesuatu itu tidak selalu salah walaupun itu terkadang terdengar konyol. hal ini yang saya pelajari dari seorang teman dari Tulung Agung yang berjuang mati-matian sampai demi bisa berkuliah di universitas ternama yang terkenal dengan almamater kuning mereka yang sudah menjadi dambaan anak-anak SMA di seluruh Indonesia.

 Saya pernah bertanya kepadanya kenapa ia mau kuliah disana, ia menjawab karena ingin mengejar seorang yang ia dambakan. Mungkin itu hal umum jika punya pasangan yang berjuang sama-sama untuk masuk universitas yang sama tapi dia berbeda. Maksud orang yang ia dambakan adalah salah orang terkenal di Sosial Media, masih lebih baik jika ia punya hubungan dengan gadis tersebut tapi nyatanya bertemu tatap muka saja tidak pernah.

 Saya masih ingat sebesar apa kisah cintanya tersebut, ia sampai mendoakannya secara diam-diam orang tersebut setiap saat, mencari jumlah mantannya siapa saja, dan informasi keluarganya itu dari keluarga macam apa. Hal-hal detail lainnya itu yang menurut saya tidak terlalu penting saja ia cari tahu. Tidak tanggung-tanggung, perasaan itu terus bertahan dari sebelum saya masuk madrasah hingga lulus tanpa wisuda yang menyedihkan.

 Kadang saya bertanya-tanya terhadap dirinya itu, sebagai pribadi yang memerhatikan dunia fashion dan jago sekali untuk berkomunikasi dengan orang lain. Kenapa dia tidak mencari gadis lain di sekitarnya ? Namun, ia benar-benar membulatkan tekad untuk bisa meraih gadis dambaanya itu.

  Saya salut dengan tekadnya itu sebab sebagai salah satu pria yang penampilannya paling keren di kelas tidak membuatnya menjadi seorang playboy yang suka mencari korban. Saya belajar sedikit tentang pentingnya penampilan dari dirinya, dimana penampilan itu adalah langkah awal dalam menarik komunikasi dan membuat orang-orang terpesona dengan karisma yang kita miliki di awal percakapan

 Skill negoisasinya itu sangat luar biasa, apalagi ditambah skill fashionnya. Saya masih ingat kehebatan negoisasinya dalam sebuah acara terakhir organisai asrama saat kami kelas 12 awal semester. Ia berani untuk menawar harga sewa transportasi dengan harga yang jauh lebih murah dari harga yang ditawarkan dari kepanitiaan yang ditawarkan sebelumnya. Ia benar-benar hebat kerena sangat pandai dalam menilai sesuatu sehingga bisa membawa negoisasi yang sama-sama menang dari kedua pihaknya.

 Sifat perfecksionis dari pendalaman fashionnya membuat ia sudah punya rencana yang sangat matang dalam menentukan langkah-langkah yang akan ia ambil. Sifatnya itu juga yang membuat ia totalitas terhadapa apa ia kerjakan. Sejak kelas 10 saja ia selalu mengarahkan semua yang ia bisa dalam setiap pelajajaran, tidak salah jika ia selalu mendapat peringkat 10 ke atas. Tidak peduli itu hal kecil, ia tidak sama sekali mengganggap itu hal sepele.

 Saat sekamar denganya, ia selalu terlihat sangat fokus pada buku pelajaran dan ia pasti akan menyendiri agar bisa fokus pada pelajaran. Saya juga sering melihat ia selalu terlihat khusyuk ketika berdoa dan jika diajak berbicara maka ia tidak akan menjawab apapun. Saat jam kosong kelas 12, ia lebih sering terlihat menyindiri dan fokus belajar daripada menikmati jam kosong bersama teman kelas. Sungguh ia adalah pribadi yang punya intragritas yang tinggi.

 Mungkin ini yang namanya kekuatan cinta. Siapa sangka rasa cintanya itu membuat ia selalu totalitas terhadap segala hal, semua itu dilakukan agar bisa menunjukkan betapa tulus dan serius pada apa yang benar-benar ia perjuangkan walaupun kenalan saja belum pernah.

 Sama seperti mencari pasangan hidup yang kita harus tahu bagaimana perilakunya, latar berlakangnya, dan seperti apa pekerjaanya. Hal itu juga ia lakukan pada saat memilih sebuah universitas. Ia tidak hanya menilai almamaterrnya saja tapi juga  menilai pada faktor-faktor hebat apa yang ada dibalik sebuah almamater.

 Saya ingat pada waktu itu kami mengikuti sebuah expo institut negri terkenal yang menjadi almamater dari almarhum Presiden RI ke 3. Saya ingat pada apa yang ia tanyakan pada salah satu mahasiswa institut tersebut.

 “ Apa yang membuat jurusan itu istimewa ?”

 Mahasiswa disana cukup terkejut pada apa yang ditanyakan dan siapa sangka jawabannya akan sangat panjang. Mahasiswa itu bercerita bagaimana orang-orang hebat di sana bekumpul dan saling berlomba-lomba menjadi terbaik, bagaimana peran dosen luar biasa yang membuat sebuah pembelajaran menajadi bagian penting dari hidup hingga memberi bocoran bahwa, walaupun kampus terkenal dengan biaya yang mahal tapi selama ada kerja keras dan kemauan maka tidak peduli kita dari kelas ekonomi berapa, kita masih punya kesempatan dan disana banyak orang-orang yang mengambil kesempatan tersebut.

 Dari hal itu, saya sadar mencari pasangan hidup yang baik adalah mengetahui bagaimana detail dan latar belakang dari seseorang yang kita dambakan. Sama seperti almamater, kita tidak boleh terlena dengan nama karena sebenarnya yang mewujudkan nama baik tersebut adalah lingkungan luar biasa yang harus di perjuangkan seperti gadis yang kita dambakan.


"Have the courage to follow your heart and intuition. They somehow know what you truly want to become." Steve Jobs

  Maaf, saya lupa. Hasil usahanya sama sekali tidak mengkhianati hasil.

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mencari Tuhan dalam Ekonomi

Filosofi kertas Kehidupan

Filosofi Mencuci Piring