Puisi Wasiat Satu Abad

Gambar
 Kakekku hidup sederhana di desa Ia pekerja keras sebagai buruh tani Menitip pesan pada anaknya Sebuah kata tentang nasib ini " Kita orang kecil tapi nasibmu ada di tanganmu ! " Ayahku pegawai mapan di kota Dan membesarkanku sejak dini Masih teringat nasehatnya Tentang meraih sebuab mimpi " Kejarlah mimpimu melampaui langit semu" Kini aku si kaya Raya Punya buah hati dari janji suci  Ku Berwasiat pada putra putrinya Sebuah pesa satu abad tentang jati diri " Raih kesuksesan hingga nama ayah lenyap karena kilau cahaya dari apa yang kalian raih." Wasiat ini ada sejak dulu kala Pesan satu abad dari lintas genarasi Yang turun temurun kebjikasannya Agar kehidupan dunia lebih berarti

Seni dalam Berbagi & Sedekah


 Saya punya sebuah prinsip dalam berbagi yaitu berbagilah pada mereka yang tidak meminta-minta. Menurut saya ketika seorang tidak meminta-minta, mereka masih punya keinginan untuk maju dan berusaha. Ketika saya berbagai pada orang yang tidak meminta-minta maka saya berusaha untuk menghargai usah seseorang.

 

Sebuah kenangan yang tidak terlalu pahit masih saya ingat ketika kelas 10 yang polos, gagal untuk ikut panitia yang mangabdi langsung pada masyarakat tapi tidak terlalu buruk karena saya sudah ditolak berkali-kali dari panitia-panitia sebelumnya dan hal itu semenyakitkan saat ditolak mentah-mentah.

 

Walaupun ada hal yang lebih menjengkal ketika saya menyadari akan sebuah kenyataan. Sebuah kenyataan yang pahit adalah mayoritas dari panitia tersebut dipilih berdasarkan kedekatan dengan para pelamar dan itu cukup menjengkel. Percuma seleksi wawancara dilaksanakan tapi daftar yang terpilih sudah ada.

 

Dari sini saya menyadari akan sebuah hal, tentang menilai seorang. Akan tetapi, pada kesempatan kali saya ingin bercerita akan hal yang berbeda yaitu tentang berbagi. Dari kegagalan ini, saya mendapatkan sebuah pencerahan dari yang namanya berbagi.

 

Pelit itu Penting

 

Hal pertama yang saya sadari adalah pentingnya pelit. Dalam panitia tersebut, ada sebuah devisi bagian yang bertugas untuk mencari dana bantuan. Awalnya ada rasa jengkel untuk ikut berdonasi karena sudah ditolak. Rasa jengkel ini berubah menjadi analisis yang realistis.

 

Ketika berbagi sebuah tanda tanya sebelum berbagai adalah “Untuk siapa dana tersebut ?” Saya sangat jarang mau untuk berbagi pada orang-orang yang tidak produktif karena ada banyak orang-orang yang tetap berusaha walaupun tidak ada.

 

Pertanyaan berikutnya adalah “Siapa yang mengelola donasi ?” Mungkin ini terdengar remeh tapi menurut saya ini bukanlah hal remeh. Kita pasti akan sangat marah ketika penjabat korupsi dengan uang amal.

 

 Saya bilang hal ini sebenarnya adalah hal yang berasal dari hal-hal kecil. Dalam sistem unrung dana sukarela hal  sangat disayangkan adalah tentang tanggung jawab. Sistem ini urun dana ini sangatlah rawan sebab tidak pengawasan dan keterbukaan sekali. Bukannya berbagai justru yang terjadi adalah bibit yang tidak bertanggung jawab.

 

 Berbagi untuk jangka panjang

 

Bagi saya berbagi itu bukan tentang memberi tapi saya salalu berpikir untuk jangka panjang. Ketika orang lapar maka berbagi makanan adalah jawabannya tapi apakah ia tidak kelaparan untuk di hari esok ? Maka berbagi pekerjaan layak adalah jawabannya. Contoh lain ialah ketika engkau berbagi ilmu produksi kayu pada pengrajin kayu yang tidak tahu apa-apa.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Filosofi Kacamata Bijaksana

Filosofi kertas Kehidupan

Filosofi Warna - Warni Kehidupan