Regenerasasi Demokrasi Lewat Suara Generasi Strawberry


Sumber : Freepik

 Rhenald Khasali (2017) mengungkapkan bahwa generasi strawberry adalah mereka yang memiliki daya kreativitas yang tinggi sehingga memilih gagasan dan ide akan tetapi memiliki sebuah kelemahan yaitu mudah untuk menyerah dan gampang untuk sakit hati. Generasi yang mempunyai julukan generasi licin di kalangan umum ini suka sekali dengan makanan cepat saji dan penyedap rasa di setiap makanannyai. Hal ini tidak salah, sebab generasi ini juga suka sekali dengan hasil yang instan dan cepat secara nyata kepada kehidupan.

“Apakah hal tersebut salah ?”

    Hal tersebut tidak sepenuhnya salah, sebab di zaman globalisasi ini di perlukan adaptasi dan daya saing yang tinggi serta responsif terhadap perubahan. Salah satu perubahan tersebut adalah digitalisasi demokrasi yang dimana setiap orang dapat menyuarakan pendapatnya secara bebas dan rata setiap sama. Jika dulu, seseorang harus punya status yang tinggi untuk di dengarkan pendapatnya maka pada hari ini setiap orang dapat didengar asalkan mempunyai perhatian dari masyarakat dunia maya.

    Akan tetapi, Ada sebuah konflik tradisional yang dimana terjadi pegesekan generasi ini dengan generasi sebelumnya. Generasi yang lebih muda dipuji-puji sebagai agen perubahan dan menjadi penerus estafet nasib bangsa ini. Sedangkan generasi pendahulu menganggap generasi muda kurang berpengalaman dan berpendapat secara tidak rasional dan bahkan cenderung memalukan. Ketimpangan membuat terjadinya fixed mindset dimana cara pandang yang hadir di setiap simpang generasi. Jika digambarkan dalam peribahasa adalah

“Tong kosong nyaring bunyinya.” Untuk generasi ini.

“Kacang lupa akan kulitnya.” Untuk generasi pendahulu.

    Permasalahan ini terdapat regenerasi dalam pendidikan. Sudah menjadi hal umum di negeri ini, di tanamkan mindsest kalau seseorang harus berani bersuara dan berpendapat. Dilemanya adalah generasi ini hanya diajarkan “Apa itu berpendapat ?” bukan “ Bagaimana cara berpendapat ?” Semua orang tahu cara berpendapat tapi hanya segelintir orang yang tahu bagaimana berpendapat yang baik serta berkualitas tanpa melewati batasan-batasan yang berlaku.

    Selain itu, ada sebuah permasalahan klasik yang dimana satu sama lain saling melempar tanggung jawab. Ambil contoh sebuah kisah sederhana yang dekat dengan kehidupan. Suatu ketika ada seseorang dosen berpesan kepada seorang mahasiswa.

“Sebagai generasi muda, sudah sewajarnya kamu yang menyelesaikan permasalah baru ini !” Ungkap dosen tersebut.

“Baik pak, saya usahakan.” Jawab mahasiswa dengan sopan.

Namun, dalam hati mahasiswa itu merasa jengkel dan berkata “Seharusnya bapak yang lebih senior dan berwewenang harusnya memimpin menyelesain masalah ini.”

Dalam beberapa tahun ke depan mahasiswa tersebut menjadi dosen di sebuah universitas dan berpesan kepada salah satu mahasiswanya.

    Pola enggannya bersuara oleh generasi saat ini hampir sama dengan generasi era order baru walaupun secara hukuman berbeda jauh tapi rasa takut tetaplah rasa takut. Sebab di masa yang akan datang, ada sebuah dunia virtual yang hadir dimana tidak ada regulasi ataupun batasan, tidak hanya sebuah regulasi tapi nilai-nilai moral dan etika. Sebuah dunia yang terdesentralisasi dari para penguasa. Tempat pelarian mereka yang membenci apa itu politik.

Daftar referensi :

    Nugroho, R Wahyu. (2005). 1500 Kumpulan Peribahasa Bahasa Indonesia dan Inggris beserta kamus. Surabaya : Indah Surabaya.

    Kasali, Rhenald. (2017). Strawberry Generation. Jakarta : Expose Publika.

    Wulandari, Widya. Funamasari, Y Furi. Dewi, D Anggraeni. (2021) “Urgensi Rasa Nasionalisme pada Generasi Z di Tengah Era Globalisasi” dalam Jurnal Pendidikan Tambusai : Volume 5 Nomor 3 Tahun 2021 (hlm. 7255-7260). Jakarta : Universitas Pendidikan Indonesia.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mencari Tuhan dalam Ekonomi

Filosofi kertas Kehidupan

Filosofi Mencuci Piring