Ada Senja di Lantai Tiga

Sumber : Freepik
Sumber : Freepik

 Saya tinggal di sebuah kamar bernama Alexander bernomor 7 yang dimana kamar tersebut berisi 6 orang yang dimana saya tinggal di gedung asrama yang jangan harap disana akan ditemukan tempat yang tenang melainkan tempat yang ramai penuh akan aktivitas satu sama lainnya. Itu adalah kehidupan asrama, walaupun kalian hidup yang anti sosial tapi lingkungan itu akan memaksa kalian untuk memiliki teman.

    Di saat sore tubuh ini begitu lelah, setelah seharian melakukan aktivitas sehari-hari. Berpikir keras atas soal-soal matematika yang menghantui serta pertanyaan-pertanyaan untuk menjadi jati diri. Rasa takut akan kegagalan masuk perguruan tinggi. Saat menaiki tangga, dapat saya lihat langit berwarna oranye bersama awan-awan dari jauh sana.

    “Ada apa dibalik sana ?” sebuah rasa penasaran akan kehidupan yang ada dibalik penjara keselamatan berkedok gedung asrama.

    Di sisi lain, saya dapat melihat teman-teman yang bermain bola dari ujung lantai tiga. Ada gadis-gadis yang menari tari tradisional dengan anggun dan luwes. Ada yang sedang rapat organisasi di sebuah gazebo mempersiapkan acara sekolah yang akan datang. Saya sering termenung akan masa-masa awal sekolah, sibuk menikmati masa-masa sma yang tidak akan terulang lagi.

    Ada senja dimana saya melihat orang-orang berlalu-lalang di jalan raya dengan kendaraan bermotor dan sedikit orang yang berjalan kaki. Sambil duduk menunggu giliran untuk mandi, napas yang berat bersama tubuh penuh keringat setelah berolahraga menghilang penat dalam lelahnya mencari ilmu.

    “Itulah kehidupan selanjutnya.” Ucap hatiku termenung.

    Ada senja yang tak terlihat di antara kumpulan awan kelabu yang menghujani perkotaan dengan angin yang berembus. Hari ini mungkin suram tapi disisi lain ada senja yang hangat menutup hari ini. Kalimat itu adalah keyakinan ku untuk berjuang di tahun-tahun terakhir.

    Ada senja dimana suasana begitu sunyi, teman-teman berbahagia karena dapat pulang ke rumah mereka masing-masing. Ruangan begitu hening tidak ada suara bola dalam ruangan, gelak tawa bercampur teriakan komedi, ataupun suara nyanyian bersama gitar untuk menutup hari. Sebuah suasana ideal yang telah saya harapkan setelah sekian lama.

    “Rasanya tenang tapi kenapa ada rasa takut kehilangan ?” Dalam hati aku bertanya-tanya dengan penuh gelisah.

    Ada senja, dimana saya menatap gedung ini sambil mencoba mengubur kenangan-kenangan yang ada disana. Ingin sekali hati ini kembali kesana tapi rasanya mustahil untuk menginjakkan kaki disana. Satu penyesalan ku adalah tidak sempat berpamitan pada tempat yang membesarkan ku ini.  

“Terima kasih sudah hadir walaupun di tutup dengan perpisahan yang mengecewakan.”

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mencari Tuhan dalam Ekonomi

Filosofi kertas Kehidupan

Filosofi Mencuci Piring