Dialog Publik yang Penuh Omong Kosong

Ilustrasi oleh Storyset Sumber Gamber : Freepik

    Pernahkan anda berpikir kenapa para pejabat terdengar seperti seorang yang berbicara tentang omong kosong dan seolah-olah mewakilkan masyarakat luas walaupun hanya kelompoknya saja. Apakah pernah mendengar seorang yang ahli dalam bidangnya dan punya penghargaan serta prestasi tetapi apa yang dibicarakan olehnya seolah-olah hanya bualan belaka. Ambil contoh hal yang lebih dekat lagi, kenapa banyak motivator yang nasihatnya tidak relevan dengan orang-orang sehingga itu hanya seperti kata-kata bijak yang tidak bermakna. Akan ada banyak kesalahan dicari dari “siapa bicara” tapi apakah pernah berpikir apa kesalahan dari “apa yang dibicarakan.”

    Sebelum membahas itu, mereka adalah orang yang cerdas serta berpengalaman. Obrolan dari seorang akademis dalam menjelaskan fenomena akan lebih berbobot daripada obrolan warga biasa yang melihat fenomena tersebut secara langsung. Shin do Hyun (2020) Mengungkapkan bahwa untuk memperdalam bahasa diperlukan kecerdasan dan sebuah pengalaman. Jadi jangan berpikir bahwa mereka seperti orang tidak berpendidikan.

    Salah satu alasan kenapa seorang penjabat cenderung berbicara omong kosong karena tidak ada pendapat pribadi yang diutarakan. Ciri-cirinya adalah para pejabat cenderung mencari jawaban aman dari setiap masalah yang ditanyakan. Jawaban mereka akan cenderung panjang lebar dan tidak memiliki inti dalam apa yang akan dibecirakan.   

    Sebenarnya hal itu tidak sepenuhnya salah sebab bisa jadi mereka tidak berwewenang untuk menjawab permasalahan tersebut. Mereka lebih cenderung menjaga harga diri daripada bilang “tidak tahu” dan dianggap tidak pantas menjadi pejabat yang harus serba tahu dari setiap sisi dan seluk beluk.

    Saya ingin bercerita tentang seorang pria paruh baya yang sakit mengunjungi dokter. Pria itu duduk dan berkonsultasi dengan seorang dokter spesialis dan memarahi pasiennya karena telah melanggar hal-hal yang tidak boleh dilakukan.

    “Bapak, kalau mau jantungnya sehat. Jangan makan hal-hal yang mengandung banyak kolesterol, kemudian sering-sering olahraga kardio agar sirkulasi eritrositnya lancar.”

Sebagai seorang yang tidak mengikuti jenjang pendidikan formal pria itu yang awalnya sabar mulai jengkel dengan nasihat dokter tersebut.

    “Dok, saya tahu saya bodoh tapi jangan jelaskan sama bahasa alien. Itu seperti jelaskan seberapa lezat sebuah madu pada seekor lalat. Sebenarnya yang bodoh itu saya atau anda ?”

    Dokter tersebut akhir paham, beliau mulai berbicara dengan mengibaratkan pada benda-benda sekitar yang mudah dimengerti oleh pria tersebut. Akhir kata, mereka dapat berdamai dan tidak sempat viral karena waktu itu tidak direkam.

    Kisah tersebut akan sering temui di masyarakat. Masyarakat cenderung enggan mendengarkan hal-hal yang sulit dimengerti, bukan berarti mereka enggan untuk mendengarkan atau belajar tapi kita harus tahu siapa lawan bicara kita. Ada yang bilang orang-orang kita terlalu agamais dan percaya hal yang mistik, justru bukankah mengibaratkan dengan yang agamais akan lebih mudah mereka terima daripada bahasa ilmiah yang asing dengan telinga mereka.

Sumber Rerfensi :

Hyun, Shin Do & Ru, Yoon Na. 2020. The Power of languange.  Ponorogo: Haru Semesta Persada.

Nasution, Ahmadriswan (2020) Bahan Ajar Teknik Komunikasi dari https://pusdiklat.bps.go.id/diklat/bahan_diklat/BA_Teknik%20Komunikasi%20Publik_Dr.%20Ahmadriswan%20Nasution,%20S.Si,%20MT._2171.pdf Jakara : Pusat Pendidikan dan BPS


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mencari Tuhan dalam Ekonomi

Filosofi kertas Kehidupan

Filosofi Kacamata Bijaksana