Filosofi Doraemon : Perjuangan Nobita si Anak Muda Zaman Now

Ilustrasi Future Glass City oleh Upklyak Sumber Gambar Freepik

    Doraemon adalah sebuah karakter fiksi yaitu seekor robot kucing dari masa depan. Dimana dia punya sebuah kantong ajaib yang dimana kantung tersebut dapat menyimpan  barang-barang yang berasal dari masa depan.  Mulai dari baling-baling bambu yang membuat seseorang dapat terbang bebas, lalu ada pintu ke mana saja yang cara kerjanya hampir seperti teleport, dan ada mesin waktu yang dapat membuat kita kembali ke masa lalu.

Robot kucing tanpa telinga tersebut bertugas untuk membantu seorang anak berkacamata yaitu Nobita yang menjadi salah satu karakter utama dalam serial ini. Nobita adalah anak yang culun dimana dia punya rasa malas untuk belajar, sangat manja dan terlalu tergantung dengan teknologi Doraemon. Banyak orang yang tidak ingin menjadi Nobita yang lemah dan cupu tapi bukankah dia menggambarkan kehidupan generasi muda yang mudah menyerah serta ingin sesuatu yang serba instan.

Meskipun Nobita mempunyai alat-alat canggih tetapi kehidupannya tidak mulus seperti apa yang diharapkan. Dia sering datang terlambat ke sekolah, gagal dalam setiap ujian, dan dia juga lambat dalam mempelajari suatu hal. Nobita sendiri pun juga termasuk korban perundungan atau disebut bullying karena fisiknya lemah serta sifat polos sehingga mudah dibodohi.

Teman-teman yang suka menjahilinya adalah Giant dan Suneo. Giant adalah anak yang berbadan besar dan punya fisik tangguh serta memiliki suara yang jelek. Dia suka memaksa teman-temannya untuk mendengar nyanyiannya karena dia bercita-cita untuk menjadi penyanyi. Sedangkan Suneo adalah anak orang kaya yang sering sekali memamerkan barang-barang mahalnya serta yang paling sering mengejek Nobita secara verbal. Mereka sering membuat Nobita menangis dan membuatnya mengadu pada Doraemon agar bisa membalas mereka.

Dalam pertemanan Nobita ada seorang gadis cantik pintar bernama Shizuka. Dia gadis anggun yang pandai dalam memainkan biola dan piano. Apalagi senyum manisnya yang ramah serta jiwanya yang suka tolong menolong, jika pahlawan pembebas perundungan adalah laki-laki tangguh tapi justru Shizuka yang sering menolong Nobita ketika dijahili. Hal itulah yang membuat Nobita jatuh cinta padanya sejak  kecil.

Walaupun Nobita adalah anak culun dan manja tetapi dia masih mau bermain dengan mereka berdua. Dia mungkin suka mengadu pada Doraemon tetapi ia tidak pernah sedikitpun mengadu pada orangtuanya. Nobita adalah anak lambat belajar di sekolah dan sering dimarahi oleh gurunya melebihi Giant tetapi ia tetap pergi sekolah walaupun semua orang memandangnya anak yang bodoh. Ia tahu akan kekuranganku tapi tidak pernah menyerah dalam hidupnya walaupun lebih banyak mengeluhnya daripada kerja kerasnya.

Hingga pada suatu hari yang mengubah segalanya. Hari-hari yang awalnya penuh dengan pertengkaran berubah menjadi hari yang tidak sama lagi. Hari itu adalah hari dimana baterai dari Doraemon habis, pada hari itu Nobita yang masih tidak bisa berbuat apa dan tidak memiliki kemampuan ditinggal sahabatnya yang selalu ada di setiap kesulitannya.

“Jangan pernah tinggalkan aku, mungkin bila tanpa kamu, aku akan menjadi sampah di sini.”

Itu adalah kata-kata Nobita yang berharap pada Doraemon  agar bisa menyala kembali. Tidak ada keajaiban di dunia ini, teknologi tetaplah sebuah realita yang disebabkan oleh sebab dan akibat. Nobita yang cengeng dan bodoh berusaha bangkit dari segala kekurangannya. Bertekad untuk mencari seorang yang menciptakan sahabat tersebut.

Tidak semua laki-laki dapat menahan air matanya, Nobita pernah bertengkar dengan giant sampai ia babak belur dan menangis tapi ia berhasil menang dalam pertarungan tersebut. Nobita pernah mempertaruhkan nyawanya demi menyelamatkan Shizuka dari dinginnya pegunungan es. Nobita tetaplah seorang yang cengeng dan ceroboh tapi keteguhan hatinya yang membuat menjadi seseorang yang paling berpengaruh di masa depan.

“ Aku tidak bisa tinggal di sini lagi, di sisimu. Apakah kamu akan baik-baik saja tanpa aku? ”

    Itulah sebuah kalimat kekhawatiran Doraemon karena melihat Nobita  yang bukannya berubah lebih baik tetapi membuat Nobita semakin tidak berdaya karena ketergantungan pada teknologi masa depannya. Akan tetapi, semua itu patah ketika Doraemon meninggalkannya tanpa ucapan perpisahan dan akan berjumpa kembali di masa depan dengan Nobita yang berbeda.

    Artikel ini merupakan sebuah penghormatan kepada Fujiko A Fujio yang telah menemani masa kecil penulis dengan imajinasi teknologi masa depan. Terima kasih atas dedikasi pada dunia manga dan tenang di kehidupan selanjutnya.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mencari Tuhan dalam Ekonomi

Filosofi kertas Kehidupan

Filosofi Kacamata Bijaksana