Filosofi Ketupat : Keberagaman dalam Ikatan

Ilustrasi Ketupat background in hand drawn style Sumber Gamber Freepik

    Di akhir bulan puasa mendekati hari raya Idul Fitri. Ada sebuah menu pokok yang selalu hadiri yaitu ketupat. Makanan yang terbuat dari beras dan dibungkus dengan anyaman daun kelapa muda ini menjadi sebuah makanan ciri khas di asia tenggara khususnya wilayah maritim. Makanan yang berasal dari Kerajaan Demak di wilayah Jawa sekitar ke-15  disajikan pada lebaran karena dapat bertahan lama karena orang-orang akan sibuk untuk mengunjungi kerabat atau orang terdekat mereka di waktu tersebut.

    Hal yang saya sukai dari ketupat adalah tekstur yang lembut dan padat sehingga mudah untuk dikunyah. Selain itu perpaduan dengan kuah opor ayam yang kaya akan lemak serta rempah-rempah yang ada di dalamnya. Ditambah taburan bawang goreng di atas daging ayam lunak memanjakan lidah saya. Hal inilah yang membuat saya berpikir apa makna dari makanan ini.

Proses Memasak

    Sebelum memasak ketupat maka hal perlu disiapkan adalah wadah yang terbuat dari janur kuning atau biasa disebut dengan daun kelapa muda. Prosesnya adalah menganyam daun-daun tersebut menjadi sebuah kubus, awalnya saya kesulitan untuk menganyam daun-daun tersebut yang dimana itu hampir sama dengan rumit hubungan antar manusia tetapi jika engkau sudah biasa maka hal itu hanya terlihat biasa saja.

Kemudian, kita masukkan beras dalam wadah tersebut sebanyak 2/3 dari kapasitas. Hal itu agar ketupat yang dimasak memiliki tekstur yang tidak terlalu keras ataupun lembek. Bukankah itu sama dengan pentingnya sebuah ruang dalam sebuah hubungan agar tidak ada yang terkekang oleh aturan ataupun renggang karena tidak adanya kebersamaan.

Setelah semua proses persiapan sudah siap maka selanjutnya adalah tahap paling membosankan bagi saya yaitu merebus ketupat. Butuh waktu sekitar 4 hingga 5 jam proses memasak agar mendapat ketupat yang ideal, tidak boleh terlalu panas ataupun terlalu rendah. Dalam waktu lama tersebut, butiran beras yang di dalam perlahan-lahan menjadi satu kesatuan. Saya berpikir panas dan air yang membuat beras itu menyatu, hal itu dengan dengan para manusia dengan segudang dilema dan masalahnya tetapi dapat bersatu karena adanya kesamaan nasib.

Kesimpulan

Hal yang dapat diambil adalah ketupat memiliki makna tentang perbedaan dari manusia yang rumit akan tetapi kerumitan itulah yang saling menguatkan satu sama lainnya.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mencari Tuhan dalam Ekonomi

Filosofi Kacamata Bijaksana

Filosofi kertas Kehidupan