Filosofi Nasi Goreng Simbol Demokrasi Dunia Kuliner

    

Sumber : Freepik

    Saat kita mendengar Nasi Goreng hal yang mudah diingat adalah saat butiran-butiran nasi tersebut masih mengeluarkan uap-uap panas setelah dimasak. Hawa panasnya membawa bau rempah-rempah yang menjadi satu dengan nasi goreng. Sebuah masakan dari negeri tirai bambu yang membumi dengan lidah-lidah pribumi dan kearifan lokal.

    Nasi Goreng seolah-olah makanan yang merantau dari tempat jauh mendatangi semua tempat di seluruh dunia. Masakan sederhana yang membuka mata bahwa setiap orang bisa memasak tanpa harus peduli pada latar belakang kelas ekonomi ataupun budaya. Masakan yang benar-benar sepenuhnya masyarakat dunia. Sebuah simbol bentuk kebebasan berekspresi dalam dunia kuliner. Tidak ada yang namanya batasan yang ada kreativitas tanpa ada batasan.

    Masakan ini tidak hanya sebuah nasi yang digoreng biasa dengan mudah sehingga membuatnya dapat dunia. Akan tetapi, nasi goreng hadir dengan kaya akan cita rasa bersama momen - momen yang ada di dalamnya. Ada yang rindu akan masakan bunda di saat se-gangnya walaupun rasanya terlalu asin, ada yang mengenang masa-masa sulit di perantauan untuk mengisi perut yang kosong, dan ada yang hadir menemani di tengah hujan malam bersama pasangan.

    Di atas sebuah piring tidak hanya ada nasi yang hangat tapi ia ditemani dengan tambahan beranekaragam. Ada telur orak-arik yang mewakilkan kehidupan pertenakan, Biji jagung menyimpulkan kehidupan pertanian, atau potongan helai sosis mewakilkan kehidupan perkotaan. Hal-hal kecil inilah yang membedakan dan membuat istimewa dari sebuah nasi goreng. Bahkan perbedaan nama lokal dan nama asing mampu menciptakan ketimpangan harga yang tinggi.

    Terkadang nasi goreng hadir bukan karena dia yang dingginkan tapi karena ketidakinginan membuatnya hadir. Saat nasi goreng dimasak dari nasi sisa maka disitulah masakan ini menyimbolkan keberlangsungan yang selaras dengan alam. Rasanya tetaplah gurih dan menghangatkan walaupun dari nasi sisa.

    Hal inilah yang membuat nasi goreng layak sebagai simbol demokrasi dunia kuliner. Sebab ia mampu hadir di atas piring dari berbagai macam rumah orang-orang entah dia kaya ataupun miskin. Tidak ada kelas sosial yang kesamaan, kesetaraan, dan keberagamaan antar golongan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mencari Tuhan dalam Ekonomi

Filosofi Kacamata Bijaksana

Filosofi kertas Kehidupan