Filosofi Nastar Kering : Kue Kampung Halaman


 Saat bicara kue nastar hal yang dibayangkan adalah makanan ringan wajib di hari-hari lebaran bersama keluarga tercinta. Saya ingat betul bagaimana lembutnya kue nastar dengan selai nanas yang ada di dalamnya kemudian ada nastar dengan taburan keju kering yang ada di atas. Ada banyak jenis kue nastar yang hadir di atas sebuah meja, siap untuk menyambut siapapun yang ingin bertamu.

Kalau kita bicara bagaimana sejarah kue nastar yang ada di Indonesia maka kita kembali ke zaman pemerintah Belanda dimana kue ini terinspirasi dari Pie Belanda dengan isian apel ataupun blueberry. Orang-orang Belanda yang rindu akan rumahnya, ingin sekali membuat hal tersebut tetapi keterbatasan dan perbedaan bahan baku membuat lahirlah kue nastar sebagai obat dari kerinduan mereka.

Buah nanas yang digunakan sebagai selai isian digunakan untuk menggantikan rasa asam manis dari buah apel dan blueberry. Penggantian itu merupakan simbol bahwa rasa rindu kampung halaman bersama keluarga  itu tidak tergantikan. akan tetapi, seseorang yang pergi merantau jauh mencari penghidupan akan menemukan penggantinya seperti rekan kerja atau bertemu dengan belahan jiwa yang selama ini dinanti. Dimanapun aku ataupun dirimu berada, rasa suka duka itu tetap ada sama seperti asam manis dalam kue nastar.

Kue Nastar itu tidak hanya dimakan oleh orang belanda saja tetapi ada pribumi yang dapat merasakan kue tersebut pada zaman itu. Selain itu, orang tionghoa yang menjadi minoritas juga dapat menikmati kue tersebut hari agung mereka. Kue berwarna coklat keemasan ini merupakan simbol kelimpahan rezeki, tekstur yang lembut dan halus adalah simbol kemudahan di setiap urusan, dan sifat yang kering membuat kue ini tahan lama yang menunjukkan semangat untuk bisa bertahan hidup di keterbatasan yang ada.

Kue Nastar dibuat kecil bukanlah tanpa ada makna tetapi bentuk tersebut menunjukkan manusia yang merendahkan diri di antara kerumunan orang-orang. Dimana orang tua menyambut hangat anak-anaknya yang datang dari tempat jauh, lalu anak-anaknya menghormati orang tuanya, dan cucunya meramaikan suasana keluarga yang telah berpisah lama. Hal itu sama dengan kue nastar yang ada banyak di dalam sebuah toples.

Di atas sebuah meja, kue nastar tidak pernah sendiri. Mereka bersama dengan kue lainnya seperti keju kastengel, semprit, putri salju ataupun makanan ringan seperti wafer ataupun keripik. Ini adalah sebuah simbol ikatan silaturahim yang tidak hanya berdasar golongan darah saja tetapi lambang keharmonisan hidup bertetangga dalam lingkungan masyarakat.

Dari hal tersebut, kue nastar tidak hanya hadir kepada masyarakat muslim di lebaran mereka. Akan tetapi, kue ini juga hadir hari raya natal ataupun hari raya umat tionghoa. Kue ini hadir tidak memandang kelas ekonomi maupun latar belakang sehingga dapat diterima di setiap rumah dari sabang sampai merauke.

Sumber Inspirasi


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mencari Tuhan dalam Ekonomi

Filosofi Kacamata Bijaksana

Filosofi kertas Kehidupan