Filosofi Spiderman : Pahlawan yang Tidak Sempurna


Ilustrasi Spider Logo oleh Sentavio dari Sumber Freepik

    Spiderman merupakan salah satu karakter fiksi manusia yang memiliki kekuatan seperti laba-laba. Mulai dari kemampuan untuk bisa merayap di dinding, menembak dan bergelantungan dengan jarinya, dan insting dari seekor laba-laba yang peka akan tanda bahaya. Spiderman adalah simbol perdamaian dan kebebasan seperti bagaimana ia dapat berayun bebas di gedung-gedung tinggi kota New York.

Kisah pahlawannya berawal dari seorang remaja yang kehidupannya berubah seratus delapan puluh derajat setelah digigit oleh seekor laba laba. Seorang remaja yang culun serta kutu buku berubah menjadi seorang pahlawan dengan kekuatan super. Ceritanya tidak besar karena aksi heroiknya menyelamatkan kota tetapi dari bagaimana perjalanannya mencari jati dirinya.

Spiderman adalah manusia super tetapi dia tetap seorang manusia yang punya permasalahan pribadi dan kegagalan. Walaupun spiderman memiliki insting laba-laba yang dapat membuatnya peka terhadap tembakan peluru namun ia tidak mampu untuk mengungkapkan perasaannya terhadap orang yang membuatnya jatuh cinta atau melepas kekesalan dari fitnah sebuah koran atas aksi yang ia telah lakukan.

    Mungkin spiderman mampu untuk melindungi masyarakat dari berbagai para penjahat super seperti serangan listrik Electro, senjata mematikan Green Goblin, dan ada banyak penjahat super lainnya. Namun, ia tidak dapat melindung paman ben dari penjahat biasa,  hal yang menjadi sebuah penyesalan yang tidak terlupakan oleh dirinya.

“Great power comes great responsibility.”

Kalimat ajaib itulah yang menjadi wasiat Paman Ben sebelum ajalnya tiba. Sebuah kalimat yang hadir agar spiderman dapat bangkit  dari keterpurukan. Spiderman bukanlah seorang remaja yang kaya, dia hanya seorang remaja yang tinggal di sebuah apartemen sederhana dengan segala masalah keuangan. Walaupun begitu ia mencoba selalu ada ketika bahaya mengancam masyarakat meskipun kehidupan pribadinya hancur sehancurnya.

Ia adalah seorang sosok yang penuh profesionalitas dalam menjadi sosok pahlawan yang tidak dibayar sepeserpun. Ia tetap mencoba menatap seluruh penjuru kota dari gedung tertinggi memastikan kota tersebut aman saat kisah asmara dan kuliahnya hancur akibat dedikasinya itu sendiri. Ia rela mengorbankan masa depannya daripada keyakinan ia miliki.

Kekuatan supernya bukanlah sesuatu yang mempunyai daya ledak tinggi ataupun perlengkapan senjata super canggih. Ia bertarung melawan musuhnya mengandalkan kecerdasannya yang ada sebelum ia mendapatkan kekuatan supernya. Beradaptasi bagaimana cara lawan bertarung dan memaksimalkan dengan kekuatan super serta kecerdasan yang ia miliki. Semakin banyak ia bertarung maka semakin bertambah proses pendewasaan.

Spiderman itu tidak hanya hadir untuk orang-orang tertentu Akan tetapi, ia hadir berbagai latar belakang seperti Spiderman Mile Morales yang merupakan remaja berkulit hitam, kemudian Spiderman Gwen dari gadis remaja yang tangguh. Setiap spiderman punya beragam masalah pribadinya tapi memiliki satu kesamaan alur. Alur tentang proses mencari jati diri.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mencari Tuhan dalam Ekonomi

Filosofi kertas Kehidupan

Filosofi Kacamata Bijaksana