Surat Kecil untuk Diri Sendiri yang telah Lelah


Ilustrasi oleh Pch.Vector Sumber : Freepik

    Surat ini aku persembahkan kepada diriku yang telah lelah. Lelah untuk berjuang dan kehilangan arah dalam menjalani kesahiriannya. Surat ini aku tulis kepada diriku yang telah melangkah jauh ke depan dan melihat sebuah tembok raksasa di depanya. Ini bukanlah sebuah motivasi ataupun nasihat karena aku tahu kata-kata saja tidak dapat menyelesaikan masalah.

    Ketika engkau melihat sebuah tembok besar yang menghalangi perjalananmu, maka engkau dapat beristirahat sebentar. Tidak perlu memaksakan diri untuk menghancurkan tembok tersebut. Semua ada waktu terbaik untuk melakukakanya. Tahanlah ambisimu yang ingin sekali mencapai impianmu karena ingatlah tubuh dan jiwa sudah lelah karena bekerja terlalu keras.

    Kepada diriku, tariklah napas dalam-dalam dan lepaskan semuanya beserta semua yang ada dalam pikiranmu. Lepaskan semua emosi dan masalah yang saat kamu hadapi. Kemudian tarik napas kembali, lepaskan semua ambisi dan rencana yang telah kamu siapkan, biarkan semuanya menjadi kosong. Kosong seolah-olah itu adalah ruang hampa.

    Setelah kamu melakukannya, aku mohon kamu matikan semua musik yang telah menjadi pelarianmu. Cobalah berhenti sejenak, biarkan telingamu untuk mendengar suara disekitarmu walaupun suara itu adalah suara bising kendaraan yang ada sekitarmu. Ini adalah waktunya untuk membiarkan telinga beristirahat dan menerima keadaan yang ada.

    Untuk diriku, aku mohon untuk meletakkan sosial mediamu. Ini waktunya rehat dari kabar orang lain yang mungkin tidak kamu kenal. Aku tahu kamu ingin seperti mereka tapi mulailah lihat tanganmu dan rasakan pergerakan jari-jarimu yang bebas tanpa ada rasa tertekan.

    Terakhir, untuk diriku. Setelah engkau membaca surat ini, aku minta maaf atas semua kebodohan yang aku lakukan. Aku hanyalah seorang manusia yang juga memiliki kesalahan yang terkadang jatuh dalam penyesalan. Andai aku bisa memutar waktu aku ingin mengubah segalanya tapi kenyataan tidak seperti itu.

    Aku ingin kamu bahagia pada apa yang kamu telah pilih. Aku ingin kamu bahagia pada apa yang telah terjadi dan apa yang akan terjadi nanti. Aku ingin melihat senyummu lagi, senyum tulus tanpa ada tekanan sedikitpun. Aku ingin kamu bahagia jauh lebih bahagia daripada yang diriku ini.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mencari Tuhan dalam Ekonomi

Filosofi Kacamata Bijaksana

Filosofi kertas Kehidupan