Nasehat dari Para Orang Tua yang Telah Gagal

Ilustrasi Group of Old Men Avatar oleh Studiogstock Sumber Gambar : Freepik

       Hanya 1% orang di dunia ini yang mampu mencapai sebuah kesuksesan, kalimat tersebut telah tertanam dalam pikiran saya sejak kecil. Sebuah ambisi dan keserakahan untuk mendapatkan lebih dari apa yang telah dimiliki. Banyak sekali seminar dan buku motivasi dari mereka yang telah sukses dan mencapai kekayaan yang tidak bisa dibayangkan tapi pernah kita belajar dari orang-orang gagal tersebut ? Belajar 99% orang-orang yang pernah mempunyai impian tapi terhenti di tengah jalan.

Terkadang ada rasa takut tersendiri untuk menjadi bagian dari mereka yang kalah dalam persaingan. Takut akan kemiskinan yang ada di hari ini, takut akan semua ambisi yang imajinatif tidak dapat menjadi realita, dan takut untuk mengecewakan orang-orang yang telah berharap pada pundak ini.

Akan tetapi, hal itu adalah kisah lama sebelum bertukar pendapat dari mereka yang telah melalui pahitnya kehidupan dan berdamai pada keadaan yang dimiliki. Sebenarnya itu bukanlah hal memalukan sebab setiap orang punya bagian sendiri dan tidak ada yang namanya tokoh sampingan. Mereka memberi nasehat pada seseorang yang lebih muda seperti saya yang sebenarnya relevant dengan kompetisi dalam dunia modern ini.

Jangan Pernah Takut Miskin

         Hal ini adalah kalimat yang diucapkan dari seseorang yang tidak memiliki uang, seseorang yang bahkan pada hari itu belum tentu dapat makan. Nasihat inilah yang mengingatkan saya untuk berhenti melihat harta kekayaan orang lain. Sebab kekayaan yang besar berasal dari tanggung jawab yang besar.

         Nasihat ini sangat relevan dengan saya yang setiap hari melihat bagaimana sebuah kecemburuan hadiri disaat sosial media memamerkan kebahagiaan orang lain. Rasa cemburu saya orang lain memakan makanan yang enak di saat perut lapar, rasa cemburu di saat orang lain dapat berlibur dan bebas bepergian kemana saja, dan rasa cemburu harus hidup sendiri di antara foto hubungan yang harmonis di perlihatkan.

         Semakin saya sering melihat entah mengapa rasa kecemburuan itu hadir. Mengotori hati secara perlahan-lahan dengan kedengkian terhadap pencapaian orang lain. Nasehat mengingatkan saya untuk melihat apa yang ada di sekitar saya tanpa harus ingin menjadi orang lain. Sebab rezeki seseorang itu semakin melimpah, saat engkau mencoba untuk lebih peka pada apa yang ada di lingkungan sekitar.

         Selain itu, orang itu berkata untuk menikahlah jika engkau telah bertemu dengan orang baik untukmu tanpa harus melihat kondisimu saat ini. Walaupun ini tidak relevan dengan saya yang sudah jomblo bertahun – tahun tapi saya ingat bahwa dia berkata bahwa rezeki seseorang itu hadir karena orang lain. Hal ini pun masih saya renungkan maksudnya hingga tulisan ini dibuat.

Jangan Pernah Takut Mencoba

         Saat masih muda cobalah banyak hal selama masih ada waktu dan tubuh yang tangguh. Cobalah semua hal yang masih engkau jangkau, jangan malu karena gagal dan menyesal pada apa yang telah dilakukan. Ini bukan soal untuk meraih kesuksesan tetapi soal eksperimen pada diri sendiri untuk mengenal diri sendiri.

         Awalnya saya sulit memahami kemudian saya ingat bahwa banyak bidang yang saya minati seperti seni melukis cahaya atau fotografi, bermain game online yang kompetitif, dan banyak bidang yang telah saya coba. Akan tetapi, dari sekian bidang yang telah ditekuni. kebanyakan tidak dapat di dalami dan hanya sekedar mencoba atau memenuhi hasrat keingintahuan saya.

         Hasrat rasa penasaran itulah yang dikatakan oleh orang tua tersebut yang membuat seseorang mau merendahkan dirinya untuk bisa belajar dari yang lebih ahli, hasrat itulah yang membuat seseorang menelan rasa malunya untuk tetap belajar walaupun usianya sudah terlalu tua dan hasrat itulah yang membuat seseorang dapat menemukan jalan rezekinya.

Jangan Pernah Sombong

         Pesan moral paling terakhirnya adalah untuk tidak pernah sombong ataupun meninggikan diri terhadap orang lain. Sifat ini hanya Tuhan yang boleh memiliki, jadilah manusia serendah-rendah seperti bumi dan mau memuliakan seseorang yang tidak layak disebut manusia atau lebih tepatnya seperti hewan kotor.

         Cobalah mendengarkan nasehat orang lain walaupun itu tidak berguna, tersenyum saat orang lain menertawakan atau memberi hujatan kebencian, dan mau belajar dari orang yang lebih mudah ataupun rendah walaupun harga diri menolak. Nasehat ini bertujuan untuk membuat seseorang menjadi seorang yang bijaksana bukan menjadi seseorang yang pandai. Sebab sudah banyak orang cerdas tetapi mereka lupa darimana mereka berasal.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mencari Tuhan dalam Ekonomi

Filosofi kertas Kehidupan

Filosofi Kacamata Bijaksana