Web novel Langit Ketujuh : Bagian 1 Kota di Atas Langit

 Tiga tahun telah berlalu. Monyet kecil itu tumbuh dengan anak muda tersebut yang memasuki usia 11 tahun. Monyet itu kini telah tumbuh dengan bulu coklat sambil mengenakan kacamata di kapalanya. Ia berayun di tengah kerumunan orang-orang berpegangan pada bagian bagunan yang pada di sana.

            Monyet tersebut berayun menuju tempat tertinggi di kota tersebut yaitu sebuah menara jam besar yang ada di tengah – tengah kota kecil. Memanjat dengan bagian bangunan yang tidak rata dengan lincahnya. Saat di puncak monyet itu dapat melihat seluruh kota dari puncak menara tersebut.

            “ Crik.....”

            Monyet itu kemudian bertukar dengan bocah tersebut, ia berdiri dengan kebangaan sambil melihat monyetnya yang harus memanjat dari bawah lagi. Saat monyet itu sampai, bocah tersebut langsung melempar sebuah pisang kepada monyet yang dimana buah tersebut. Monyet itu langsung menangkapnya dan memakannya sambil terjatuh dari ketinggian.

            Dari atas tersebut bocah yang bernama Bima itu dapat melihat seluruh penjuru kota kecil  yang terbang di atas langit. Disisi barat ada pulau dengan perbukitan hijau mengelilingi pulau hingga selatan kota. Sisanya Bima dapat melihat kapal terbang yang bersandar di pinggir kota.

            Kota tersebut bernama Kota kecil Borneo yang dimana hanya terdiri dari sebuah daerah perkotaan yang makmur. 80% populasi kota tersebut adalah para petualang dan pedagang yang singgah dari berbagai wilayah dan sisanya adalah warga asli yang boleh tinggal disana. Mereka yang tidak berasal dari sana dapat tinggal jangka waktu yang lama tapi tidak dapat izin untuk memiliki properti di kota tersebut.

            Bima dan Natan kemudian berlari di atas bangunan. Mereka melompat dan berayun dari bangunan-bangunan satu ke yang lainnya. Mereka bergerak dengan lincah dan bebas dari padatnya jalanan yang penuh dengan orang-orang berlalu-lalang disana. Kota perdagangan ini tidak pernah sepi selama beberap dekade.

            Bima mendatangi sebuah balai desa yang dimana berdiri bangunan dekat dengan pelabuhan kota. Disana barang-barang di muat dari kapal terbang yang bersandar dan berbergai para petualang datang untuk singgah atau bersiap untuk berlayar di langit biru. Bima yang punya keinginan untuk menjadi petualang menatap kagum ketika melihat para petualang datang di kota tersebut.

            Disana mereka dapat melihat beberapa kapal terbang yang sedang bersandar di tepi pelabuhan kota. Ada kapal raksasa yang menumpuk berbagai barang hingga kapal gagah dengan meriam serta persenjataannya penuh dengan kerusakan dan bekas peluru dan ada kapal kecil yang lincah dapat terbang di langit-langit kota.

            Mereka akhirnya sampai di sebuah banguan besar yang lebih terlihat seperti gudang tua yang tidak terawat. Bima dan Natan masuk ke banguan tersebut sambil menyapa orang-orang yang sedang bekerja di sana. Bima mendatangi sebuah ruangan yang paling buruk dan penuh dengan berkas-berkas yang tidak tertata. Bima melihat walikota yang sedang berbisara dengan seorang pedagang di sana.

            “ Ayolah, aku dulu lahir dan besar di tempat ini ! biarkan aku memiliki sebuah rumah sederhana di mana tempat ayah dan ibuku pernah hidup disini !” Ungkap seorang saudagar

            “ Maafkan aku, aku tidak ingin menjual satupun properti untukmu !” ucap walikota

            “ Sebut berapa harganya ! kau tahu siapa aku.

            “ Justru karena aku tahu siapa dirimu, kau tidak bisa memerasku !”

            “ Kita adalah teman sejak kecil dan kita pernah bepetualang bersama. jangan engkau serakah karena memiliki sebagian besar tanah di tempat strategis ini !”

            “ Jika aku adalah orang serakah maka aku tidak mau tinggal dan bekerja bangunan rongsokan ini !”

            Akhirnya, saudagar itu pergi dengan rasa kecewa karena tidak dapat hal yang dia inginkan. Bima baru saja mendengar pembicaraan mereka karena hanya ada kayu tipis yang menjadi dinding dari ruangan walikota. Dia penasaran dengan masa lalu walikota yang pernah berpetualang di langit bebas.

            “ Jadi engkau pernah berpeteluang di langit bebas, bagaimana dunia di luar sana ?” Ungkap Bima dengan rasa penasaran.

            “ Itu hanyalah sebuah cerita lama yang tidak akan terulang.”

            “  Apakah engkau pernah menginjak kaki dengan hamparan air yang tidak terbatas dan menemukan dasar yang tidak berujung ?”

            “ Nak, kenapa engkau percaya pada dongen yang dinyanyikan di jalanan ?”

            “ Karena itu adalah impianku.”

            “ Nak, berikan surat yang serikat titipkan !”

            “ Hei ! kenapa engkau tidak menjawab pertanyaanku ?”

            “ Pada waktunya kau akan melihat kenyataannya !”

            Bima muda kecewa dengan jawaban sang walikota dan tidak lama kemudian datang kawannya bernama Bridge.

            “ Hei lihatlah kawan apa yang aku temukan ! ”

            Bridge datang membawakan sebuah peti, kemudian ia membuka peti tersebut dan membuat mata Bima terkesima melihat hal tersebut.

Bersambung ...

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mencari Tuhan dalam Ekonomi

Filosofi kertas Kehidupan

Filosofi Kacamata Bijaksana