Webnovel / Light Novel Si Kilat Biru : Chapter 1 Drio si Bocah Hitam

          Di atas atap bangunan kayu tua yang tergenang oleh air laut, duduk seorang remaja yang sedang asyik mendengarkan sebuah lagu dari musik box. Dia menikmati musik tersebut sambil memancing di sore hari dimana langit kelabu menutupi wilayah tersebut selama berpuluh-tahun lamanya.

         Namanya adalah Drio seorang remaja berusia 13 tahun dengan kulit coklat kehitaman dengan wajahnya yang berbentuk oval. Tubuhnya kurus dan dapat terlihat tulang-tulangnya dengan jelas. Ia mempunyai sebuah bekas luka tipis di bagian alis kirinya.

Tidak pernah seumur hidupnya melihat matahari yang sampai hari ini bersembunyi di balik langit tercemar itu bahkan dia pun tidak pernah melihat fajar karena sebelah timur hanya ada tembok laut yang menghalangi pemandangan. Meskipun begitu, ia masih dapat menikmati hembusan angin laut yang menyentuh kepalanya lewat sela-sela rambut keriting pendeknya.

         “ Strike !!!”

Tiba-tiba, umpan pancing tenggelam dalam air laut yang keruh dan memberikan tarikan ke tangan Drio. Dia berusaha sekuat tenaga untuk menarik pancingnya tetapi ikan tersebut berusaha melawan dengan berenang berlawanan arah. Terlihat muka Drio yang terangsang bahagia merasakan sensasi tarikan yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya. Selang beberapa saat, akhirnya ikan tersebut menyerah dan jatuh ke tangan Drio.

         Ikan itu berukuran sekitar 80 cm dan memiliki badan menyerupai torpedo yang ramping berwarna perak terang di bagian bawah serta berwarna perak hitam di atasnya. Kepalanya berbentuk pipih memanjang dan terdapat titik hitam bulat di bagian matanya. Hari ini adalah hari keberuntungan nya karena ia tidak pernah mendapatkan ikan sebesar itu sebelumnya.

         “Malam ini kita bisa makan malam enak !” Ungkap Drio dengan tawa dan muka berseri-seri.

         Kemudian, ia menaruh ikan tersebut di dalam sebuah tas kepis ikan yang terbuat dari anyaman bambu. Di dalam tas tersebut juga ada dua ikan sejenis tetapi dengan ukuran lebih kecil. Hal itu adalah rekor luar biasa sebab sangat sulit untuk mendapatkan ikan di laut coklat yang tercemar.

         Drio menatap langit kelabu di mana matahari senja bersembunyi di balik bayang-bayang langit kotor tersebut. Waktunya untuk Drio untuk pulang setelah sekian lama memancing dan menikmati hasil tangkapannya tersebut. Dia mengemaskan peralatan pancingnya dan melemparkan sisa makanan umpan mentah ke dalam laut yang tenang.

         Drio berjalan di atas bangunan-bangunan tak bertuan, melompati banguan satu ke yang lainnya. Dia berjalan sambil menjaga keseimbangan di antara tembok-tembok dan bagian bangunan yang tersisa. Banyak coretan bekas dan beberapa poster ataupun gambar buram yang masih tertinggal di tembok-tembok itu.

         Akhirnya ia sampai di sebuah kampung kumuh, dimana ramai berlalu lalang di jalan yang sempit dan pemukiman yang padat itu. Kampung itu memiliki daratan yang lebih tinggi tetapi perlahan dan pasti air laut mulai mengikis dan menenggelamkan kampung tersebut. Di sana penuh dengan para gelandangan dan orang-orang yang kelaparan. Bau busuk dapat tercium dengan jelas dari sampah pinggiran jalan yang bercampur dengan lumpur hitam.

         “Lihat dia ....!”

         “Dia adalah pembawa kutukan.”

         “Dasar anak haram.”

         Hal itulah obrolan dari penduduk setempat ketika melihat Drio berjalan melewati kampung tersebut. Orang-orang disana menganggap dia sebagai pembawa sial karena ia memiliki kulit hitam dan hal itu juga menjadi pelarian dari rasa lapar serta kemiskinan mereka. Mereka menatap Drio dengan tatapan sinis serta mata yang menunjukkan hasrat yang penuh dengan kebencian.

         Drio yang sudah terbiasa dengan tatapan tersebut hanya berjalan terus kedepan tanpa mempedulikan orang-orang di sekitarnya. Dia masih menunjukkan muka yang bahagia sambil mendengar lagu dari music boxnya. Terkadang ia melangkah sambil berdansa kecil menikmati irama dari aliran musik ia suka.

         Saat berjalan, Drio tanpa sengaja melihat seekor anjing setinggi setengah meter bersembunyi di sela-sela sempit pemukiman disana. Ia memiliki badan gagah berbulu coklat kehitaman tetapi memiliki kaki depan kanan yang pincang. Anjing itu terlihat kesakitan dengan sedikit luka berdarah yang ada di badannya, ia berusaha untuk menghindar dari kerumunan orang-orang yang ada di sekitarnya bersembunyi dalam bayang-bayang sempit.

         Drio yang melihat itu, menghampiri anjing yang terluka tersebut. Menyadari Drio sadar akan keberadaan anjing tersebut. Seketika insting liarnya  menyala dan membuat ia langsung menatap tajam Drio sambil menunjukkan gigi tajam yang penuh dengan air liur berjatuhan. Dengan tenang. Drio mengambil seekor ikan yang paling kecil dari tangkapannya dan melempar ke dekat anjing tersebut.

“Ini bukanlah tempat aman untuk kamu tinggal disini !” Ungkap Drio yang kemudian meninggalkan anjing tersebut.

Sampai di sebuah toko kelontong dimana itu adalah sebuah bangunan kayu tua yang memiliki dua lantai yang tidak terlalu tinggi. Toko memiliki sebuah pintu kayu rusak yang tidak bisa ditutup dan hanya memiliki sebuah jendela persegi panjang di lantai satu. Tertulis sebuah nama di lantai dua yaitu “Toko Sembako Mr Tao.”

“ Selamat sore Mr Tao !” Ungkap Drio menyapa

“ Hallo nak !” jawab Mr Tao yang duduk di pojokan ruangan sambil membaca koran.

Mr Tao adalah seseorang keturunan cina yang umurnya hampir satu abad, ia adalah pemilik toko tersebut dan menjadi satu-satunya penjual sembako di wilayah tersebut. Mr Tao biasanya menjaga toko dengan kaos putih rusuhnya sambil membaca koran atau melihat berita sebuah TV tabung yang ada di pojokan atas toko sambil mengelus-elus janggut putih yang ia miliki.

Di sana terdapat barang-barang kebutuhan sehari-hari mulai dari beras hingga sayur-mayur yang sudah tidak segar. Toko tersebut sangatlah berantakan di mana-mana barang disusun tidak rapi dan banyak sekali debu serta jaring-jaring laba-laba di langit-langit. Ruangan yang sempit dan letak barang yang acak membuat pelanggannya harus bersusah payah untuk mencari barang yang mereka butuhkan.

Di bawah penerangan yang redup, Drio mencoba mengangkat tumpukan-tumpukan barang disana. Ia menggeledah barang-barang disana sambil mengusap barang-barang dari kotoran debu yang menempel. Setelah menemukan barang yang ia temukan, Drio menghampiri tempat Mr Tao berjaga dimana ada secangkir teh hangat yang masih mengeluarkan uap panasnya.

“Aku ingin membeli setengah kilogram arang kayu dan satu kantong kecil kecap manis !” Ungkap sambil menunjukkan barangnya ke Mr Tao.

“Jumlahnya adalah 5 Doit “ Jawab Mr Tao sambil membaca koran.

“Bukankah itu adalah Ikan Bandeng ! Kau sungguh beruntung mendapatkan itu Drio !” Ungkap Mr Tao yang melihat dua ikan tersebut di tas Drio dengan sedikit terkejut.

“Yup, hari ini adalah keberuntunganku ! Aku harap bisa makan enak malam ini.”

“Kau perlu beberapa buah jeruk nipis dan cabai untuk meningkatkan cita rasanya.”

“Maaf, aku hanya bawa uang pas hari ini.”

“Bagaimana jika kau tukar satu ekor itu dan aku berikan ini semua dan beberapa tambahan seperti bawang merah tanpa ada biaya ?”

“Apakah engkau yakin Mr Tao ?”

“Tentu, sudah lama aku tidak makan ikan tersebut.”

 “Baik, aku terima tawaranmu.”

         Drio Pun menerima terima tawaran Mr Tao dan kemudian ia memberikan seekor ikan bandeng kecil tersisa kepadanya. Muka Drio terlihat sangat berseri-seri karena ia tidak perlu mengeluarkan uang sepeserpun untuk makan ikan ini begitupun Mr Tao yang mendapatkan ikan tersebut. Tiba-tiba acara saluran televisi berubah menjadi berita darurat.

Bersambung ...


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mencari Tuhan dalam Ekonomi

Filosofi kertas Kehidupan

Filosofi Mencuci Piring