Webnovel / Light Novel Si Kilat Biru : Prolog Tembok Laut yang Gagal

       Seseorang remaja laki-laki sedang berjalan di atas air laut yang dangkal. dia berjalan perlahan-lahan mengangkat kakinya melawan tarikan air sambil memegang pundak lengan kanannya yang kesakitan. Matanya menatap kosong ke depan dengan pandangan buram sambil bernafas dengan susah payah. Dengan bibir yang kering ia merasakan rasa haus yang tidak bisa ia tahan.

“ Tolong .... Seseorang tolong aku ......” Ungkap dalam kata-kata yang tidak bisa di ucap.

         Dia berjalan maju ke depan menuju sebuah pemukiman kumuh di depannya. Baju kaos abu-abu yang kotor terlihat dengan jelas luka segar berbentuk cakar. Darah tubuhnya terus menetes ke bawah dari lengan dan kakinya yang penuh dengan luka gigitan. Gelombang air laut pun menghanyutkan darahnya ke tepi pantai dan memudarkan warna merahnya.

Di sekitarnya banyak bangkai ikan-ikan yang tewas dengan bekas gigitan oleh makhluk buas. Mayat-mayat ikan itu mengambang ke tepian dan tersangkut dalam sela-sela bangunan rusak yang terkikis oleh ombak. Bangunan itu telah lama ditinggalkan dan hanya menunggu waktu untuk tenggelam ataupun hancur tak tersisa.

“ Kamana aku harus pergi ?” Ungkap dia dalam rasa kebingungan.

Dari arah belakang remaja laki-laki itu berdiri sebuah tembok laut setinggi 10 meter. Tembok tersebut mengalami keretakan luar biasa dan sebagian besar hancur tak kuasa menahan ombak laut yang semakin ganas. Di sana tertulis “ The Failure Batavia Sea Wall.” dengan cat pilox dan banyak tulisan kritik yang menunjukkan kegagalan dari proyek tembok laut tersebut. Di atas sana terlihat beberapa bendera putih yang berkibar dengan kencang oleh hembusan angin laut.


  

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mencari Tuhan dalam Ekonomi

Filosofi kertas Kehidupan

Filosofi Kacamata Bijaksana