Sebuah Arti dari Tekad Arif : Kebijaksanaan, Kebahagiaan, dan Kebebasan

 Pada 4 November 2022, aku telah berumur 21 tahun dan secara bertahap aku mulai menemukan apa yang menjadi nama belakangku. Sebuah nama dengan empat huruf yang aku pikir sebagai sebuah omong kosong mulai hidup. Arif artinya kebijaksanaan, bijaksana itu bukan berarti selalu baik tetapi menempatkan sesuatu pada tempatnya.

Terkadang aku memilih sebuah pilihan yang paling baik di antara pilihan buru. Terkadang aku harus tega terhadap seseorang agar mereka mengerti apa itu kenyataan hidup yang pahit. Terkadang aku harus berbohong pada diri sendiri ataupun orang lain untuk kebaikanku sendiri dan orang lain. Aku telah hidup begitu naif dan polos sehingga menolak semua warna hitam dan hanya menjunjung warna putih secara mutlak. Padahal aku hidup di bumi dengan kehidupan manusia yang abu-abu.

“Pilihan yang bijak bukanlah tentang benar atau salah tetapi tentang baik dan buruk.”

Awalnya aku berusaha mencari makna dari warna abu-abu tersebut tapi pada akhirnya bukan hal itu yang sebenarnya aku cari. Hal sebenarnya yang aku cari adalah Kebahagiaan dan Kebebasan. Ketika menjadi bahagia bukan berarti hanya mengerjakan apa yang hanya aku suka tetapi juga melakukan apa yang tidak aku suka. Seperti aku yang menyukai ilmu psikologi tetapi aku juga harus menerima kebencian terhadap orang lain karena sifat dasar manusia yang egois dan serakah. Begitu pula ketika menjadi bebas, bukan berarti engkau terbebas melakukan segala hal dengan mengabaikan semua kewajiban yang ada melainkan menjadi mandiri untuk menjangkau apa yang aku inginkan.

“ Orang yang bijaksana adalah orang yang munafik ”

Untuk menggapai Kebahagiaan dan Kebebasan maka aku memerlukan yang namanya Kebijaksanaan. Banyak orang yang pandai tetapi terlena dengan pengetahuan dan pengalamannya. Banyak orang yang baik hati tetapi terlalu naif sehingga terjebak oleh permainan orang lain. Banyak orang yang beriman tetapi memandang orang yang berdosa menganggap dirinya suci. Hal ini juga berlaku pada sisi sebaliknya.

Seorang yang bijaksana berarti pandai menempatkan diri pada tempatnya. Nasehat itulah yang aku dengar dari seseorang tukang kayu yang pernah hidup negeri tanah melayu. Beliau dapat tertawa dengan orang yang mengecilkannya tetapi beliau melawan kepada orang yang akan menghancurkannya walaupun harus mempertaruhkan nyawa.  Aku sudah mendengar kisahnya berkali-kali hingga aku hafal detail kecil cerita tersebut tetapi selalu ada pesan baru saat mendengarnya kembali. Dari cerita tersebut lahirlah sebuah prinsip yang menjadi moto hidupku

“ Jaga rasa, jangan angkuh, dan mengerti tempat.”

Jaga rasa maksudnya perhatikanlah dengan siapa engkau bicara. Muliakanlah lawan bicaramu walaupun dia tidak layak untuk diperlakukan sebagai manusia. Janganlah engkau membicarakan kekayaan pada orang miskin, janganlah engkau membicarakan cinta pada orang yang patah hati, dan janganlah engkau memohon pada orang yang pelit. Perbanyaklah mendengar walaupun lebih banyak sakitnya tetapi itulah cara paling mudah agar hatimu tangguh.

Jangan angkuh artinya janganlah engkau memandang rendah seseorang walaupun dia bukan manusia karena sifat angkuh adalah mutlak milik Tuhan yang maha Esa. Terkadang aku sering kesulitan mendengarkan seorang yang lebih muda menasihati diriku ini. Ketika seorang itu angkuh di situlah kondisi yang pandai menjadi bodoh, yang kaya menjadi miskin, dan yang suci menjadi hina. Ingatlah sifat inilah yang membuat iblis diusir dari surga dan sifat ini juga yang melalaikan seorang manusia.

Mengerti tempat maknanya adalah di mana engkau berada jadilah menjadi satu dengan lainnya. Ketika engkau datang ke tempat orang melayu maka berpenampilan dan berperilakulah seperti orang melayu. Ketika engkau datang ke tempat para penjahat janganlah engkau berpenampilan orang suci karena itu adalah penghinaan dan kesombongan.  Tuhanmu lebih mudah memaafkan kesalahanmu kepada-Nya tetapi tidak ketika terhadap sesamamu.

Ini adalah latar belakang dan setiap zaman dan generasi punya caranya masing-masing. Sejarah tidak akan pernah terulang tetapi polanya akan kembali terulang di masa depan.  

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mencari Tuhan dalam Ekonomi

Filosofi kertas Kehidupan

Filosofi Mencuci Piring