Brand dari Sebuah Masjid

 

Saya punya kenalan seorang pak de yang menjadi seorang kepala desa di Madura. Sebagai seorang kepala desa, dia adalah orang berjasa karena jasanya itu sangat besar memajukan desa. Beberapa peninggalan utamanya adalah sebuah madrasah dan sebuah masjid. Hingga akhir hayatnya, ia menjadi seorang tetua yang dihormati oleh orang-orang desa.

Dalam membangun sebuah masjid ada hal yang berbeda dengan cara masyrakat disana. Saat membangun masjid, di tempat asal saya biasanya akan meminta uang sumbangan di pinggir jalan karena dana yang diperlukan itu cukup besar dan cukup sulit untuk mendapat donatur dari orang-orang desa.

Namun, ia punya pendirian untuk tidak meminta di pinggir jalan karena ia yakin yang namanya rezeki itu ada banyak jalan sehingga akan lebih baik untuk tidak meminta-minta seperti yang lain. Awalnya saya tidak terlalu sadar apa yang ia maksud tapi sejak saya sekolah di Malang, saya mulai menyadari apa yang ia maksud.

Peran Meme dalam Mencerdaskan Bangsa

Jika kita bicara soal masjid mungkin tidak dipikir bagi kita bahwa masjid itu juga punya strategi bisnis tapi dalam bisnisnya ini ia adalah memaksimakanl bagaimana mendapatkan uang donasi dari yang namanya kotak amal.

Strategi pertama adalah lokasi. Dalam sebuah bisnis pastinya lokasi strategis itu sangat penting agar menjangkau lebih banyak konsumen dan hal itu juga berlaku pada masjid dimana sebuah lokasi juga akan memengaruhi jumlah jemaah. Semakin banyak jemaahnya maka peluang uang yang masuk kotak amal juga semakin besar. Hal ini yang membuat kenapa jalan raya utama itu menjadi tempat dari toko-toko untuk berjualan dan hal ini juga bisa berlaku pada masjid.

Jika kita perhatikan supermarket maka hal yang menjadi senjata utama mereka ialah fasilitas dari pendingin ruangan, kebersihan, dan lapangan parkir luas. Fasilitas juga akan memengaruhi bagaimana para orang-orang luar untuk singgah di masjid. Kebesihan masjid dan akses parkir yang luas membuat orang-orang itu nyaman sehingga orang-orang luar yang tidak kenal daerah pun juga akan lebih memilih untuk  singgah di masjid.

Bicara soal bisnis pasti tidak luput dengan yang namanya brand dan itupun juga berlaku pada masjid. Jangan remehkan kekuatan dari sebuah brand, kita ambil contoh merk minuman soda terkenal yatiu Cocacola dengan Pepsi. Secara survei rasa Pepsi itu lebih enak dari Cocacola tapi secara penjual Cocacola masih juaranya.

Kenapa bisa demikian ? Orang-orang lebih memilih Cocacola itu bukan karena rasanya tapi karena orang-orang punya pengalaman berharga dari rasa khas cocacola ini.

Hal ini juga terjadi pada masjid sekolah saya, Masjid itu punya banyak cerita yang hidup karena sebagai siswa asrama kehidupan kami sangat dekat dengan masjid itu. Pagi hingga malam selalu ada kegiatan yang kami habiskan disana sehingga masjid itu punya nama tersendiri di setiap generasinya. Dari kenangan ini, membuat banyak sekali alumni yang merasa berterima kasih atas pengalama berharga dari masjid tersebut sehingga mereka sering memberi donatur terhadap masjid tersebut.

Baca Juga : Buku itu lebih pintar daripada  Internet

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mencari Tuhan dalam Ekonomi

Filosofi kertas Kehidupan

Filosofi Mencuci Piring